Dengarkan Sebelum Bertindak


Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, pasanglah telingamu kepada pengertianku, supaya engkau berpegang pada pertimbangan, dan bibirmu memelihara pengetahuan.


Penyesalan sering kali bukan muncul karena kita tidak pernah diperingatkan, tetapi karena kita tidak mau mendengarkan.

Inilah sebabnya Salomo mengawali pasal lima dengan ajakan yang sangat sederhana namun sangat mendasar: “Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, pasanglah telingamu kepada pengertianku.”

Sebelum berbicara tentang berbagai jebakan dosa, Salomo terlebih dahulu berbicara tentang pentingnya memiliki telinga yang mau mendengar.

Sebab kemenangan terhadap pencobaan selalu dimulai jauh sebelum pencobaan itu datang.

Ada suara media sosial yang menentukan apa yang dianggap benar.
Ada suara teman yang memengaruhi keputusan kita.
Ada suara budaya yang berkata bahwa kebahagiaan adalah mengikuti keinginan hati.

Bahkan sering kali ada suara ego yang berkata bahwa kita tahu apa yang terbaik bagi diri sendiri.

Namun di tengah semua suara itu, Tuhan bertanya, “Apakah engkau masih mendengarkan hikmat-Ku?”

Masalahnya bukan karena Tuhan berhenti berbicara. Firman-Nya tetap tersedia setiap hari. Roh Kudus tetap menegur dan memimpin.

Yang sering menjadi masalah adalah telinga rohani kita dipenuhi oleh begitu banyak kebisingan sehingga suara Tuhan semakin pelan terdengar dalam hidup kita.

Salomo tidak hanya meminta anaknya untuk mendengar, tetapi juga untuk “berpegang pada pertimbangan.”

Hikmat sejati menghasilkan kemampuan membedakan.

Orang yang berhikmat tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan sesaat.

Ia belajar bertanya, “Apakah ini benar di hadapan Tuhan? Apakah keputusan ini akan membawa aku semakin dekat kepada Tuhan atau justru menjauh dari-Nya?”

Banyak pencobaan sebenarnya datang dengan wajah yang menarik.

Tidak semua yang tampak baik benar-benar baik.
Tidak semua kesempatan berasal dari Tuhan.
Tidak semua hubungan membawa kita semakin dekat kepada-Nya.

Karena itu kita membutuhkan pertimbangan yang lahir dari hikmat Allah, bukan sekadar logika manusia.

Ini menunjukkan bahwa hikmat yang sejati tidak berhenti di dalam pikiran. Hikmat akan mengubah cara seseorang berbicara.

Perkataan orang yang dipenuhi firman akan lebih berhati-hati, lebih membangun, lebih penuh kasih, dan lebih membawa damai.

Sebaliknya, hati yang kosong dari hikmat biasanya menghasilkan perkataan yang sembrono, kasar, penuh gosip, atau menyakitkan.

Menariknya, Salomo tidak berkata agar anaknya belajar berbicara lebih baik terlebih dahulu. Ia justru mengajak anaknya memenuhi hati dengan hikmat.

Sebab Yesus juga mengajarkan bahwa mulut mengucapkan apa yang meluap dari hati.  Ketika hati dipenuhi oleh firman Tuhan, maka perkataan pun akan berubah dengan sendirinya.

Setiap hari kita membuka Alkitab, merenungkannya, membiarkan Roh Kudus mengoreksi pikiran kita, lalu memilih untuk taat meskipun terkadang bertentangan dengan keinginan diri sendiri.

Hikmat bukan sekadar pengetahuan Alkitab yang banyak, tetapi kebenaran yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab orang yang terus belajar mendengarkan Tuhan akan memiliki pertimbangan yang benar ketika harus mengambil keputusan.  Ia mungkin tidak selalu mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi ia tahu kepada siapa ia harus mendengarkan.

Dan itu sudah cukup untuk menuntunnya berjalan dengan aman.

Kiranya setiap hari kita memiliki hati yang lembut untuk mendengar suara Tuhan melalui firman-Nya.

Sebab kehidupan yang berhikmat tidak dimulai dari banyaknya pengalaman, melainkan dari kerendahan hati untuk terus belajar kepada Allah.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *