
Amsal 3:12
Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayanginya.
Salah satu pengalaman yang paling tidak menyenangkan dalam hidup adalah ketika kita ditegur.
Tidak banyak orang yang menikmati koreksi. Saat kesalahan kita disingkapkan, reaksi pertama yang sering muncul adalah membela diri, mencari alasan, atau bahkan merasa Tuhan sedang menghukum kita.
Padahal, melalui Amsal 3:12, Salomo mengajak kita melihat teguran Tuhan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.
Ia berkata, “Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayanginya.”
Artinya, didikan Tuhan bukanlah tanda bahwa Ia membenci kita, melainkan bukti nyata bahwa kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya.
Di dalam kehidupan keluarga, seorang ayah yang baik tidak akan membiarkan anaknya bertumbuh tanpa arahan.
Ketika seorang anak mulai mengambil jalan yang salah, ayah yang mengasihinya akan menegur, mengingatkan, bahkan memberikan disiplin jika diperlukan.
Bukan karena ia menikmati melihat anaknya menangis, tetapi karena ia tahu bahwa membiarkan kesalahan hari ini akan menjadi kehancuran di masa depan.
Sebaliknya, orang tua yang tidak pernah peduli justru membiarkan anak melakukan apa saja tanpa koreksi. Kasih sejati selalu disertai tanggung jawab untuk membentuk karakter.
Demikian pula cara Tuhan bekerja dalam kehidupan kita.
Kasih-Nya bukan hanya dinyatakan melalui berkat, jawaban doa, atau pertolongan-Nya, tetapi juga melalui didikan-Nya.
Ada kalanya Tuhan berbicara melalui firman yang menegur hati kita.
Ada kalanya Ia memakai nasihat dari seorang hamba Tuhan, pasangan hidup, sahabat, atau bahkan seseorang yang tidak kita duga.
Pada kesempatan lain, Tuhan mengizinkan kita mengalami konsekuensi dari keputusan yang salah agar kita belajar untuk hidup lebih bijaksana.
Semua itu bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Justru sebaliknya, itu menunjukkan bahwa Ia masih bekerja membentuk hidup kita.
Sering kali kita berdoa agar Tuhan mengubah keadaan, padahal yang sedang Tuhan ubah adalah karakter kita.
Kita meminta jalan yang mudah, tetapi Tuhan sedang membangun ketekunan.
Kita meminta masalah segera selesai, tetapi Tuhan sedang mengajarkan iman dan ketergantungan kepada-Nya.
Kita ingin hidup nyaman, tetapi Tuhan lebih menginginkan kita menjadi dewasa secara rohani.
Bagi Tuhan, karakter jauh lebih berharga daripada kenyamanan sementara, sebab karakter akan menentukan bagaimana kita menjalani seluruh kehidupan yang telah Ia percayakan.
Sayangnya, tidak sedikit orang percaya yang salah menafsirkan setiap kesulitan sebagai hukuman Tuhan.
Memang tidak semua penderitaan adalah bentuk didikan Tuhan, tetapi ketika Roh Kudus menyatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hidup kita, respons yang benar bukanlah mengeluh atau menyalahkan Tuhan.
Respons yang benar adalah datang dengan hati yang rendah, bertanya, “Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan melalui semua ini?”
Pertanyaan seperti ini akan membuka hati kita untuk bertumbuh, bukan sekadar mencari jalan keluar dari masalah.
Karena itu, setiap kali kita membaca firman Tuhan dan merasa ditegur, jangan segera menutup hati.
Ketika hati kita terusik oleh khotbah, jangan buru-buru menganggap itu hanya kebetulan.
Ketika Tuhan memperlihatkan kesalahan kita melalui nasihat orang lain, jangan langsung tersinggung.
Bisa jadi Tuhan sedang menyatakan kasih-Nya melalui cara-cara yang sederhana namun sangat berarti.
Orang yang berhikmat bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang mau menerima koreksi dan berubah.
Hari ini, marilah kita belajar menerima setiap didikan Tuhan dengan ucapan syukur.
Mungkin prosesnya tidak selalu mudah.
Mungkin terkadang terasa menyakitkan.
Namun, kita dapat percaya bahwa Bapa di surga tidak pernah bertindak tanpa tujuan.
Setiap teguran-Nya mengandung kasih.
Setiap proses yang diizinkan-Nya membawa pertumbuhan.
Setiap disiplin yang diberikan-Nya sedang mempersiapkan kita menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus.
Jika hari-hari ini Tuhan sedang menegur hati Anda, jangan melihatnya sebagai tanda penolakan. Sebaliknya, pandanglah itu sebagai pelukan kasih seorang Bapa yang tidak rela anak-Nya terus berjalan menuju kehancuran.
Teguran Tuhan bukan tanda Ia menjauh, tetapi bukti bahwa kasih-Nya masih sedang membentuk kita.