
Amsal 1:29-31
Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.
Pilihan selalu memiliki konsekuensi. Itulah kebenaran sederhana yang ditegaskan Amsal 1:29-31.
Dunia sering mengajarkan bahwa kebebasan berarti melakukan apa saja yang kita inginkan. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap pilihan akan menghasilkan buahnya masing-masing.
Kita bebas memilih jalan hidup, tetapi kita tidak bebas memilih akibat dari jalan yang kita tempuh.
Yang menarik, ayat ini tidak mengatakan bahwa mereka dihukum karena kurang pintar atau kurang berpendidikan. Justru masalah utamanya adalah mereka membenci pengetahuan.
Pengetahuan yang dimaksud bukan sekadar informasi atau kecerdasan, melainkan pengenalan akan Allah.
Mereka tidak sekadar mengabaikan Tuhan, tetapi memiliki hati yang menolak Dia.
Penolakan itu terlihat dari kalimat berikutnya, “tidak memilih takut akan TUHAN.”
Takut akan Tuhan bukanlah perasaan takut seperti seorang budak kepada majikan yang kejam. Takut akan Tuhan adalah sikap hormat, tunduk, dan menempatkan Allah sebagai otoritas tertinggi dalam hidup.
Orang yang takut akan Tuhan akan bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki?” sebelum bertanya, “Apa yang saya inginkan?”
Sering kali masalah terbesar manusia bukan karena tidak mengetahui kehendak Tuhan.
Banyak orang sudah mendengar Firman Tuhan berkali-kali. Mereka tahu pentingnya kejujuran, pengampunan, kesucian, kasih, dan kerendahan hati.
Namun mengetahui tidak selalu berarti menaati. Pengetahuan tanpa ketaatan hanya menjadi informasi yang tidak mengubah hidup.
Ayat berikutnya mengatakan bahwa mereka tidak mau menerima nasihat dan mengabaikan teguran.
Teguran memang tidak pernah terasa menyenangkan. Tidak ada orang yang senang ketika kesalahannya dikoreksi.
Namun justru di situlah letak perbedaan antara orang bijaksana dan orang bodoh menurut Kitab Amsal.
Orang bijaksana bersedia dikoreksi karena ia lebih mencintai kebenaran daripada harga dirinya.
Sebaliknya, orang bodoh lebih memilih mempertahankan egonya daripada menerima didikan.
Sadarilah bahwa dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan sering menegur kita melalui berbagai cara.
Melalui pembacaan Alkitab.
Melalui khotbah di gereja.
Melalui nasihat orang tua.
Melalui pasangan hidup.
Melalui sahabat seiman.
Bahkan melalui keadaan yang membuat kita berhenti dan merenungkan kembali arah hidup kita.
Pertanyaannya bukan apakah Tuhan masih berbicara, tetapi apakah kita masih mau mendengarkan.
Akhir ayat ini sangat menarik. Tuhan berkata bahwa mereka akan memakan buah tingkah lakunya sendiri.
Ini menunjukkan prinsip tabur-tuai yang berlaku dalam kehidupan rohani maupun kehidupan sehari-hari.
Seseorang yang terus menabur kesombongan akan menuai kehancuran hubungan.
Orang yang terus menabur kebohongan akan kehilangan kepercayaan.
Mereka yang menabur kemalasan akan menuai kekurangan.
Sebaliknya, orang yang menabur ketaatan, kesetiaan, dan kasih akan menikmati buah yang membawa damai sejahtera.
Sering kali kita menganggap penderitaan datang secara tiba-tiba, padahal sebagian di antaranya adalah hasil akumulasi keputusan-keputusan kecil yang diambil selama bertahun-tahun.
Demikian pula berkat Tuhan sering kali merupakan hasil dari kesetiaan dalam langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari.
Kabar baiknya adalah selama kita masih hidup, Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat.
Seruan Hikmat dalam Amsal bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak manusia kembali kepada jalan yang benar.
Allah lebih senang melihat orang berdosa bertobat daripada menuai kehancuran akibat dosanya.
Karena itu, ketika Roh Kudus menegur hati kita hari ini, jangan mengeraskan hati.
Sambutlah teguran Tuhan sebagai kasih seorang Bapa yang ingin membawa anak-anak-Nya kepada kehidupan.
Hari ini marilah kita memeriksa kembali pilihan-pilihan yang sedang kita buat.
Apakah keputusan-keputusan kita lahir dari rasa takut akan Tuhan atau hanya mengikuti keinginan hati sendiri?
Apakah kita masih mudah menerima nasihat Firman, atau justru mulai merasa tidak memerlukannya?
Ingatlah, setiap benih yang kita tabur hari ini akan menjadi buah yang kita nikmati atau kita sesali di kemudian hari.
Karena itu, pilihlah jalan hikmat, sebab jalan itulah yang membawa kepada kehidupan.
Hidup yang diberkati dimulai dari hati yang mau menerima hikmat dan teguran Tuhan.