Kaya Belum Tentu Bijaksana


Orang kaya menganggap dirinya bijak, tetapi orang miskin yang berpengertian mengenal dia.


Tanpa disadari, kita pun dapat terpengaruh oleh cara pandang dunia tersebut.

Kita cenderung menganggap orang yang berhasil secara finansial pasti memiliki jawaban atas semua persoalan hidup.

Ketika seseorang memiliki bisnis yang besar, rumah yang mewah, atau jabatan yang tinggi, pendapatnya sering kali langsung dianggap benar.

Salomo bahkan memberikan peringatan yang cukup tajam. Orang kaya bisa saja menganggap dirinya bijak.

Kata “menganggap” menunjukkan adanya penilaian yang berasal dari dirinya sendiri, bukan dari kenyataan yang sesungguhnya.

Inilah bahaya kesombongan yang sering datang secara perlahan.

Kesombongan tidak selalu muncul dalam bentuk menyombongkan diri secara terang-terangan. Terkadang kesombongan muncul dalam bentuk yang lebih halus.

Misalnya, seseorang mulai merasa tidak perlu lagi mendengar nasihat.

Ia sulit menerima masukan.
Ia selalu merasa pengalamannya paling benar.
Ia enggan dikoreksi karena merasa sudah terlalu banyak berhasil dalam hidup.

Seseorang bisa berhasil membangun bisnis, tetapi gagal membangun keluarga.
Seseorang bisa pandai menghasilkan uang, tetapi tidak pandai mengelola emosinya.
Seseorang bisa memiliki banyak relasi, tetapi miskin kasih dan kerendahan hati.

Karena itu, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak menjadikan harta sebagai sumber identitas diri.

Harta adalah alat, bukan tujuan hidup. Harta adalah titipan, bukan ukuran nilai seseorang.

Yang Tuhan cari bukanlah seberapa besar yang kita miliki, melainkan seberapa besar hati kita mau dibentuk oleh-Nya.

Ia sadar bahwa selalu ada hal yang harus dipelajari.
Ia tidak malu menerima teguran.
Ia tidak merasa dirinya paling hebat.

Semakin seseorang bertumbuh dalam hikmat, semakin ia menyadari bahwa ia masih membutuhkan Tuhan setiap hari.

Di sisi lain, orang yang hanya mengandalkan kekayaannya akan mudah goyah ketika kehilangan semuanya.

Ketika bisnis menurun, investasi merosot, atau keadaan ekonomi berubah, identitasnya ikut runtuh karena selama ini ia bersandar pada sesuatu yang fana.

Sebaliknya, orang yang bersandar pada hikmat Tuhan akan tetap kokoh. Sekalipun keadaan berubah, ia memiliki dasar yang tidak terguncangkan.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, kelola keuangan dengan bijak, dan jangan takut untuk berhasil. Namun jangan pernah membiarkan keberhasilan membuat kita berhenti belajar.

Tetaplah rendah hati.
Tetaplah mau diajar.
Tetaplah dekat dengan Tuhan.

Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa bijaksana kita hidup di hadapan Tuhan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *