Ketika Kebodohan Membungkam Suara Kita


Hikmat itu terlalu tinggi bagi orang bebal; ia tidak membuka mulutnya di pintu gerbang.


Namun Alkitab mengingatkan kita bahwa memiliki banyak informasi tidak selalu berarti memiliki hikmat.

Ada perbedaan besar antara pengetahuan dan hikmat. Pengetahuan memenuhi pikiran, tetapi hikmat mengubah cara hidup seseorang.

Amsal 24:7 memberikan gambaran yang cukup tegas. Hikmat terasa terlalu tinggi bagi orang bebal.

Mengapa demikian? Karena orang bebal bukanlah orang yang kurang pintar, melainkan orang yang menolak untuk diajar.

Banyak orang gagal bertumbuh bukan karena kekurangan kemampuan, melainkan karena merasa dirinya sudah cukup tahu.

Mereka sulit menerima nasihat, menolak koreksi, dan menganggap masukan dari orang lain sebagai ancaman.

Padahal, salah satu ciri orang berhikmat adalah kerendahan hati untuk terus belajar.

Semakin seseorang bertumbuh secara rohani, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari.

Sebaliknya, orang yang merasa dirinya selalu benar akan berhenti berkembang.

Tidak heran Alkitab mengatakan bahwa hikmat terasa terlalu tinggi bagi orang bebal. Bukan karena Tuhan menyembunyikannya, tetapi karena mereka sendiri menolak untuk meraihnya.

Sering kali kita berdoa meminta Tuhan memberkati hidup kita, tetapi lupa meminta hikmat. Padahal hikmat akan memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil.

Hikmat membantu kita berbicara dengan tepat.
Hikmat menolong kita mengelola emosi.
Hikmat mengajarkan kapan harus bertindak dan kapan harus diam.

Orang yang berhikmat tidak selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Mereka justru tahu kapan waktunya mendengarkan.

Sebaliknya, orang yang tidak mau belajar sering kali berbicara terlalu cepat dan mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang.

Di era media sosial, kita mudah tergoda untuk selalu ingin terlihat benar. Kita ingin pendapat kita didengar dan dihargai.

Namun ayat hari ini mengajak kita bertanya: apakah kita juga memiliki hati yang mau belajar?

Orang yang berhikmat tidak takut dikoreksi. Mereka memahami bahwa koreksi yang sehat adalah bagian dari proses pertumbuhan.

Jangan sampai usia bertambah, pengalaman bertambah, jabatan bertambah, tetapi kerendahan hati justru berkurang.

Mintalah kepada Tuhan hati yang lembut dan mudah dibentuk. Jangan hanya menjadi orang yang pandai berbicara, tetapi jadilah orang yang mau mendengarkan.

Tidak ada seorang pun yang selesai belajar. Selama kita hidup, Tuhan akan terus memakai berbagai situasi, orang-orang di sekitar kita, bahkan kegagalan kita sendiri untuk membentuk hikmat.

Ketika kita rendah hati, hikmat Tuhan akan semakin nyata dalam hidup kita.  Kita akan mampu mengambil keputusan dengan lebih bijaksana, membangun relasi yang sehat, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Jangan menjadi orang yang menolak pertumbuhan. Sebaliknya, milikilah kerinduan untuk terus belajar setiap hari.

Karena pada akhirnya, orang yang berhikmat bukanlah orang yang mengetahui segalanya, melainkan orang yang selalu bersedia diajar oleh Tuhan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *