
Amsal 18:8
Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.
Setiap hari kita dikelilingi oleh begitu banyak informasi.
Ada percakapan di rumah, obrolan di tempat kerja, pesan yang masuk ke telepon genggam, hingga berbagai unggahan di media sosial.
Tanpa disadari, sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk mendengar dan membicarakan sesuatu tentang orang lain.
Amsal 18:8 mengingatkan bahwa perkataan yang bersifat memfitnah atau gosip memiliki daya tarik yang sangat kuat.
Penulis Amsal mengibaratkannya seperti makanan yang lezat. Ada rasa penasaran yang membuat orang ingin terus mendengarnya.
Bahkan, terkadang kita merasa sedang mendapatkan informasi penting, padahal yang kita konsumsi justru sedang merusak hati kita sendiri.
Bahaya gosip tidak selalu terlihat secara langsung. Ia bekerja secara perlahan.
Ketika kita terus mendengarnya, persepsi kita terhadap seseorang mulai berubah.
Hubungan yang tadinya baik bisa menjadi renggang.
Kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun dapat runtuh hanya karena beberapa kalimat yang tidak terverifikasi.
Tuhan mengingatkan bahwa masalahnya bukan hanya pada mulut yang berbicara, tetapi juga pada hati yang menikmati perkataan tersebut.
Ada kalanya kita tidak ikut menyebarkan gosip, tetapi kita senang mendengarkannya.
Padahal, sikap itu pun dapat membuka pintu bagi benih-benih kepahitan, prasangka, dan penghakiman.
Di zaman digital seperti sekarang, tantangan ini semakin besar.
Sering kali kita menerima pesan yang diawali dengan kalimat, “Jangan sebarkan ke orang lain, ya,” tetapi justru membuat kita terdorong untuk membagikannya kepada banyak orang. Ada pula berita yang belum jelas kebenarannya, tetapi langsung diteruskan karena dianggap menarik.
Sebagai anak Tuhan, kita dipanggil untuk berbeda. Kita dipanggil menjadi pembawa damai, bukan pembawa kegaduhan.
Sebelum menyampaikan sesuatu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah ini benar, apakah ini perlu disampaikan, dan apakah ini akan membangun orang lain?
Tidak semua hal yang kita ketahui harus kita ceritakan. Tidak semua informasi yang kita terima harus kita sebarkan. Kadang-kadang, bentuk kasih yang paling nyata adalah memilih untuk diam.
Menjaga perkataan adalah bagian dari pertumbuhan rohani. Orang yang dewasa secara rohani tidak hanya mampu mengendalikan emosi, tetapi juga mampu mengendalikan lidahnya.
Sebab lidah memiliki kekuatan yang besar: ia bisa menguatkan, tetapi juga bisa menghancurkan.
Ketika kita belajar menjaga perkataan, kita sedang membangun budaya yang sehat di keluarga, di lingkungan kerja, di gereja, dan di komunitas tempat kita berada.
Orang lain akan merasa aman berada di dekat kita karena mereka tahu bahwa kita bukan pribadi yang gemar membicarakan keburukan orang lain.
Hari ini, mari meminta Tuhan memurnikan hati kita. Bukan hanya agar kita tidak menyebarkan gosip, tetapi juga agar kita tidak menikmati gosip. Mintalah kepekaan untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus memilih diam.
Semoga setiap perkataan yang keluar dari mulut kita menjadi sarana berkat, penghiburan, dan penguatan bagi orang-orang di sekitar kita. Sebab dunia tidak membutuhkan lebih banyak suara yang memecah belah, melainkan lebih banyak pribadi yang membawa damai.
Tidak semua yang menarik untuk didengar layak untuk disimpan di hati, dan tidak semua yang kita ketahui harus kita ceritakan kepada orang lain.