7 Hal Dibenci Tuhan – Part 3

Amsal 6:16-19
Amsal 6:16-19

Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.


Orang zaman sekarang menyebutnya provokator.   Atau sederhananya penghasut.

Tetapi firman Tuhan menunjukkan bahwa menimbulkan pertengkaran adalah sesuatu yang sangat serius di mata-Nya.

Mengapa? Karena ini merusak apa yang Tuhan bangun—yaitu hubungan.

Sering kali, orang yang menimbulkan pertengkaran tidak menyadari dampaknya. Ia mungkin merasa hanya berbicara jujur, hanya menyampaikan fakta, atau bahkan merasa dirinya berada di pihak yang benar.

Namun tanpa hikmat dan kasih, kebenaran yang disampaikan bisa menjadi alat yang melukai.

Bahkan, ada benih perpecahan yang ditanam.

Hubungan yang tadinya erat menjadi renggang. Kepercayaan mulai retak. Komunitas yang seharusnya penuh kasih menjadi penuh kecurigaan.

Semua ini, jika tidak diserahkan kepada Tuhan, bisa keluar dalam bentuk kata-kata yang memecah belah.

Karena Sering kali luka yang tidak diselesaikan tidak tetap diam di dalam hati. Ia mencari jalan keluar. Dan salah satu jalan yang paling mudah adalah melalui perkataan.

Orang yang merasa tidak dihargai bisa mulai merendahkan orang lain.

Orang yang terluka bisa mulai menyebarkan cerita yang memojokkan.

Orang yang iri bisa membungkus kritik dengan nada “kebenaran,” tetapi sebenarnya sedang menjatuhkan.

Ia rindu agar setiap anak-anak-Nya hidup dalam damai, saling membangun, dan menjaga kesatuan.

Lebih jauh lagi, kesatuan bukan sekadar nilai sosial—ini adalah cerminan dari hati Allah sendiri.

Ketika orang percaya hidup dalam damai, dunia dapat melihat karakter Tuhan yang penuh kasih dan kebenaran. Tetapi ketika terjadi perpecahan, kesaksian itu menjadi rusak.

Maka, renungan ini mengajak kita untuk menjadi pembawa damai, bukan pembawa konflik.

Sadarilah bahwa setiap kata yang kita ucapkan memiliki kuasa — untuk membangun atau meruntuhkan.

Mungkin kita tidak merasa sedang menimbulkan pertengkaran, tetapi apakah perkataan kita membawa damai?

Apakah kehadiran kita membuat orang lain semakin dekat satu sama lain, atau justru semakin jauh?

Ingatlah bahwa:
Tuhan memanggil kita untuk menjadi alat-Nya—bukan untuk memecah, tetapi untuk menyatukan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *