
Amsal 17:5
Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya; siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman.
Pernahkah kita melihat seseorang mengalami kegagalan, kehilangan pekerjaan, atau jatuh dalam kesulitan, lalu diam-diam merasa senang karena menganggap dirinya lebih baik?
Mungkin kita tidak mengatakannya secara langsung, tetapi dalam hati muncul pikiran, “Rasain! Memang pantas dia mendapatkannya.”
Kita juga mungkin pernah meremehkan seseorang karena penampilannya sederhana, pekerjaannya dianggap rendah, atau kondisi ekonominya jauh di bawah kita.
Tanpa disadari, kita sedang mengukur nilai manusia berdasarkan apa yang dimilikinya, bukan berdasarkan siapa dirinya di hadapan Allah.
Amsal 17:5 memberikan teguran yang serius: “Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya.”
Mengapa demikian? Karena orang miskin yang kita pandang sebelah mata itu juga diciptakan oleh Allah.
Ia memiliki martabat yang tidak hilang hanya karena kekurangan uang, pendidikan, kesempatan, atau kedudukan.
Ketika kita merendahkan seseorang karena kemiskinannya, kita seolah-olah menganggap bahwa keadaan ekonominya membuat dirinya kurang berharga.
Padahal, kekayaan bukan ukuran nilai seseorang di mata Tuhan. Orang kaya maupun orang miskin sama-sama membutuhkan kasih karunia Allah.
Bagian kedua ayat ini juga menyingkapkan persoalan hati: “Siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman.”
Ada perbedaan antara mengakui bahwa seseorang menuai akibat dari perbuatannya dan menikmati penderitaannya.
Kita boleh belajar dari kesalahan orang lain, tetapi tidak seharusnya bersukacita ketika mereka mengalami kehancuran.
Bahkan jika seseorang pernah menyakiti kita, penderitaannya bukan alasan untuk kehilangan belas kasihan.
Firman Tuhan tidak meminta kita membenarkan semua tindakan orang lain. Kita tetap dapat menegakkan kebenaran, menetapkan batasan, dan meminta pertanggungjawaban.
Namun, semua itu tidak harus disertai kebencian atau kegembiraan atas penderitaan mereka.
Lalu, bagaimana kita menerapkan firman ini?
Mulailah dengan memperhatikan cara kita berbicara tentang orang yang kurang beruntung.
Apakah kita menghormati mereka atau menjadikannya bahan lelucon?
Ketika seseorang gagal, apakah kita membantu dan mendoakannya atau justru menyebarkan ceritanya untuk mempermalukannya?
Ingatlah bahwa keadaan hidup seseorang dapat berubah.
Mereka yang hari ini berkekurangan mungkin kelak berkecukupan.
Mereka yang sekarang berdiri tegak mungkin suatu hari membutuhkan pertolongan.
Karena itu, jangan membangun harga diri dengan merendahkan orang lain.
Menghormati Allah bukan hanya terlihat dari cara kita beribadah, tetapi juga dari cara kita memperlakukan manusia yang diciptakan-Nya.
Jangan menertawakan mereka yang jatuh, jangan merendahkan mereka yang kekurangan, dan jangan menjadikan penderitaan sesama sebagai sumber kepuasan.
Belajarlah melihat setiap orang dengan belas kasihan.
Sebab, hati yang sungguh menghormati Sang Pencipta akan berusaha menghargai ciptaan-Nya.
Ketika kita merendahkan manusia, kita sedang meremehkan karya Sang Pencipta.
