Hasil dari Pilihan yang Kita Pilih

Hasil dari Pilihan yang Kita Pilih


Orang yang murtad hatinya menjadi kenyang dengan jalannya, dan orang yang baik dengan apa yang ada padanya.


Pernahkah kita melihat seseorang yang terus-menerus melakukan kesalahan, tetapi tidak pernah merasa bahwa dirinya sedang berada di jalan yang salah?

Ketika dinasihati, ia menolak. Ketika diingatkan, ia mencari alasan.

Bahkan ketika akibat dari keputusannya mulai terlihat, ia tetap menyalahkan orang lain.

Ia merasa bahwa masalahnya disebabkan oleh keadaan, orang-orang di sekitarnya, atau perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya.

Amsal 14:14 mengingatkan kita bahwa setiap orang pada akhirnya akan berhadapan dengan hasil dari jalan yang dipilihnya sendiri.

Amsal ini dimulai dengan gambaran tentang orang yang hatinya menyimpang dari jalan yang benar.

Kata hati dalam pemahaman Alkitab bukan sekadar menunjuk pada perasaan.

Hati berkaitan dengan pusat pikiran, kehendak, motivasi, dan keputusan manusia.  

Seseorang mungkin mulai menyimpang ketika ia mengabaikan kebenaran yang sebenarnya sudah diketahuinya.

Ia mengetahui bahwa suatu tindakan tidak benar, tetapi tetap melakukannya karena menguntungkan dirinya.

Ia memahami bahwa perkataannya melukai orang lain, tetapi memilih untuk membenarkan dirinya.

Ia tahu bahwa ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, tetapi terus mencari alasan untuk menghindarinya.

Pada awalnya, penyimpangan itu mungkin terlihat kecil.
Tidak ada yang langsung mengetahui.
Tidak ada teguran yang datang.

Bahkan, mungkin ia masih terlihat berhasil dan dihormati oleh banyak orang.

Inilah bahayanya hati yang menyimpang: seseorang dapat begitu terbiasa dengan pilihannya sendiri sehingga ia tidak lagi menyadari bahwa dirinya sedang menjauh dari kebenaran.

Karena itu, kita tidak boleh hanya bertanya, “Apakah yang saya lakukan menguntungkan saya?”  Kita juga perlu bertanya, “Apakah yang saya lakukan benar di hadapan Tuhan?”

Amsal 14:14 melanjutkan dengan mengingatkan bahwa orang yang hatinya menyimpang akan menjadi kenyang dengan jalannya.

Gambaran ini menunjukkan bahwa seseorang pada akhirnya akan berhadapan dengan hasil dari jalan yang ditempuhnya.

Ia tidak dapat terus-menerus memisahkan pilihannya dari konsekuensi yang menyertainya.

Orang yang terbiasa berbohong mungkin kehilangan kepercayaan orang lain.

Orang yang terus memelihara kemarahan dapat merusak hubungan yang sebenarnya berharga.

Orang yang mengabaikan tanggung jawab mungkin suatu hari harus menghadapi akibat dari kelalaiannya.

Orang yang mengejar keuntungan dengan mengorbankan integritas dapat memperoleh keuntungan sesaat, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.

Tentu saja, tidak semua kesulitan yang dialami seseorang merupakan akibat dari kesalahannya sendiri.

Alkitab juga mengajarkan bahwa orang benar dapat mengalami penderitaan karena ketidakadilan, dan bahwa kita hidup di tengah dunia yang telah rusak oleh dosa.

Apakah ada kebiasaan yang terus kita pertahankan meskipun kita mengetahui bahwa kebiasaan itu merusak diri kita?

Apakah ada keputusan yang kita benarkan hanya karena kita belum melihat akibat buruknya?

Apakah kita menganggap bahwa selama tidak ada orang yang mengetahui kesalahan kita, berarti semuanya baik-baik saja?

Hikmat mengajarkan kita untuk belajar sebelum terlambat.

Kita tidak harus mengalami semua akibat buruk terlebih dahulu untuk memahami bahwa jalan tertentu memang salah.

Orang yang memilih kejujuran mungkin kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan cara yang tidak benar.

Orang yang memilih mengampuni mungkin harus berjuang menghadapi rasa sakit.

Orang yang setia melakukan tanggung jawabnya mungkin tidak langsung menerima penghargaan.

Orang yang menolak mengikuti arus yang salah mungkin dianggap aneh atau tidak menyenangkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Integritas membangun kepercayaan.
Kesetiaan memperkuat hubungan.
Kerendahan hati membuka ruang untuk belajar.

Ketaatan kepada Tuhan membentuk karakter yang semakin matang.

Hasil-hasil tersebut tidak selalu muncul dalam sehari.  Ada hal-hal yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesabaran untuk bertumbuh.

Kita mungkin memiliki tujuan yang baik, tetapi menggunakan cara yang salah untuk mencapainya.

Kita ingin dihormati, tetapi membangun citra diri melalui kebohongan.

Kita ingin berhasil, tetapi mengorbankan keluarga dan integritas.

Kita ingin mempertahankan kedudukan, tetapi mengabaikan kebenaran.

Kita ingin hidup nyaman, tetapi terus menghindari tanggung jawab.

Karena itu, jika hari ini kita menyadari bahwa ada jalan yang perlu diperbaiki, jangan mengeraskan hati.  

Akuilah kesalahan, bertobatlah, dan ambillah langkah nyata untuk kembali kepada kebenaran.

Kita tidak dapat mengubah semua akibat dari keputusan masa lalu, tetapi kita dapat berhenti mempertahankan jalan yang salah dan mulai mengambil keputusan yang lebih bijaksana.