Sebelum Semuanya Terlambat

Sebelum Semuanya Terlambat


Sebab itu ia akan ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, dengan tidak dapat dipulihkan lagi.


Satu kebohongan mungkin terasa sepele.
Satu kompromi dengan dosa mungkin dianggap tidak masalah.
Satu keputusan yang salah mungkin kita pikir masih bisa diperbaiki nanti.

Masalahnya adalah “nanti” tidak selalu datang.

Amsal 6:15 berkata, “Sebab itu ia akan ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba.”

Kata “sebab itu” menunjukkan bahwa kehancuran tersebut merupakan akibat dari jalan hidup yang sudah dipilih sebelumnya.

Orang yang digambarkan dalam bagian ini bukan tiba-tiba menjadi jahat dalam satu hari.

Ia membiarkan hatinya dipenuhi kejahatan.
Ia merencanakan yang buruk.
Ia menciptakan pertengkaran.
Ia terus berjalan dalam arah yang salah.

Kemudian datanglah saat ketika semuanya runtuh.

Ketika kita melakukan sesuatu yang salah dan tidak langsung mengalami akibat buruk, kita bisa mulai berpikir bahwa semuanya aman.

Kita bahkan dapat menganggap bahwa Tuhan membiarkan kita terus berjalan.

Padahal, tidak adanya akibat langsung bukan berarti tidak ada akibat sama sekali.

Seperti seseorang yang terus mengemudi dengan rem yang rusak.

Selama mobil masih dapat berjalan, ia mungkin merasa semuanya baik-baik saja.  Tetapi masalahnya tetap ada.

Ia hanya belum sampai pada saat ketika kerusakan itu menghasilkan kecelakaan.

Demikian juga dengan kehidupan rohani.

Kita bisa terus menyimpan kepahitan.
Terus memelihara kebiasaan dosa.
Terus berbohong.
Terus memanipulasi orang lain.
Terus mengikuti lingkungan yang membawa kita menjauh dari Tuhan.

Dan karena tidak terjadi sesuatu yang buruk hari ini, kita berpikir bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Amsal berkata: jangan berpikir demikian.

Sesuatu yang selama ini kita anggap kecil dapat tiba-tiba menghancurkan kepercayaan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, hubungan, bahkan arah hidup kita.

Karena itu, pesan ayat ini bukan sekadar, “Hati-hati, nanti kamu bisa hancur.”

Pesan yang lebih dalam adalah:
“Jangan terus berjalan di jalan yang salah.”

Firman Tuhan menegur kita bukan karena Tuhan ingin melihat kita jatuh, tetapi karena Tuhan ingin kita berbalik sebelum semuanya terlambat.

Pertobatan selalu lebih baik daripada penyesalan.

Meminta maaf hari ini lebih baik daripada kehilangan hubungan karena kesombongan.

Mengakui kesalahan hari ini lebih baik daripada mempertahankan kebohongan sampai semuanya terbongkar.

Meninggalkan dosa hari ini lebih baik daripada menunggu dosa itu menghancurkan hidup kita.

Selama Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat, jangan sia-siakan kesempatan itu.

Kasih karunia Tuhan bukan alasan untuk terus hidup dalam dosa.

Justru karena kita telah menerima kasih karunia, kita dipanggil untuk meninggalkan jalan yang salah dan kembali kepada-Nya.

Jangan tunggu sampai hubungan itu benar-benar hancur.
Jangan tunggu sampai kepercayaan itu hilang.
Jangan tunggu sampai dosa itu terbongkar.
Jangan tunggu sampai konsekuensinya tidak dapat diperbaiki lagi.

Berbaliklah sekarang !!!