Hati yang Harus Dijaga

Hati yang Harus Dijaga


Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.


Kita sering berhati-hati terhadap banyak hal.

Kita menjaga kesehatan.
Menjaga rumah.
Menjaga kendaraan.
Menjaga uang.
Menjaga barang-barang berharga.

Tetapi bagaimana dengan hati kita?

Mengapa hati begitu penting?

Karena kehidupan kita mengalir dari apa yang ada di dalam hati.

Ketika hati dipenuhi kepahitan, kepahitan itu akhirnya keluar melalui perkataan dan tindakan.

Ketika hati dipenuhi iri hati, kita mulai membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika hati dipenuhi kesombongan, kita sulit menerima nasihat.

Sebaliknya, ketika hati dipenuhi takut akan Tuhan, hal itu akan memengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memperlakukan orang lain.

Ada hal-hal yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tetapi Tuhan melihatnya.

Mungkin kita masih tersenyum di luar, tetapi menyimpan kemarahan di dalam.

Mungkin kita terlihat baik-baik saja, tetapi hati kita dipenuhi iri hati.

Mungkin kita tidak mengucapkan sesuatu yang buruk, tetapi terus memeliharanya dalam pikiran.

Hati yang tidak dijaga dapat perlahan-lahan mengarahkan kehidupan kita ke jalan yang salah.

Apa yang kita dengarkan.
Apa yang kita pikirkan.
Apa yang kita ingat-ingat.
Apa yang kita inginkan.
Apa yang kita biarkan menguasai hati.

Namun, menjaga hati bukan berarti kita mampu membersihkan hati kita dengan kekuatan sendiri.

Kita membutuhkan Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”

Hati yang benar bukan hanya hati yang berusaha menjadi baik, tetapi hati yang terus-menerus dibentuk oleh Tuhan.

Hari ini, mungkin ada sesuatu yang sedang kita simpan di dalam hati—kekecewaan, kemarahan, ambisi, iri hati, ketakutan, atau luka masa lalu.

Jangan biarkan hal itu menjadi sumber yang mengalirkan kehidupan kita.

Bawa kepada Tuhan.