Kesabaran dalam Ketekunan

Kesabaran dalam Ketekunan


Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.


Ada saatnya kita merasa bahwa semakin keras kita berbicara, semakin cepat orang lain akan mengerti.

Ketika seseorang tidak mendengarkan, kita meninggikan suara.
Ketika pendapat kita ditolak, kita menjadi lebih keras.

Ketika orang lain melakukan kesalahan, kita ingin segera menunjukkan bahwa kita benar.

Amsal tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh tegas.

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan bahwa ada kekuatan yang sering tidak kita sadari dalam kesabaran dan kelembutan.

Bayangkan tulang yang keras.  Secara manusia, tulang bukan sesuatu yang mudah dipatahkan.

Tetapi Amsal menggunakan gambaran yang kuat: lidah yang lembut dapat “mematahkan tulang.”

Ada orang yang mampu memenangkan perdebatan dengan suara keras, tetapi kehilangan hubungan.

Ada yang berhasil membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi membuat orang lain semakin menutup hati.

Ada yang menyampaikan kebenaran, tetapi cara menyampaikannya membuat kebenaran itu tidak lagi didengar.

Kita perlu belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan keras agar menjadi kuat.

Kadang-kadang satu kalimat yang lembut jauh lebih efektif daripada sepuluh kalimat yang penuh kemarahan.

Kadang-kadang kita tidak perlu segera menjawab. Kita hanya perlu menunggu, berdoa, lalu berbicara pada waktu yang tepat.

Ini sangat penting dalam keluarga.

Suami dapat mengatakan sesuatu kepada istri dengan cara yang membuatnya merasa dihargai atau justru diserang.

Orang tua dapat menegur anak dengan cara yang membuat anak belajar atau justru memberontak.

Kita dapat menyampaikan kritik kepada teman dengan tujuan membangun, tetapi cara yang salah dapat membuatnya merasa direndahkan.

Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu bertanya bukan hanya, “Apakah yang akan saya katakan benar?” tetapi juga, “Apakah cara saya menyampaikannya mencerminkan hati Tuhan?”

Yesus sendiri memperlihatkan bahwa kebenaran dan kasih tidak harus dipisahkan.

Ia tidak mengorbankan kebenaran demi menyenangkan manusia, tetapi Ia juga tidak menggunakan kebenaran untuk menghancurkan manusia.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Ada waktunya kita harus berbicara.
Ada waktunya kita harus menegur.
Ada waktunya kita harus mengatakan tidak.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan kesabaran, penguasaan diri, dan kelembutan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang sulit kita hadapi.

Jangan buru-buru meninggikan suara.

Jangan merasa bahwa kemarahan adalah satu-satunya cara agar kita didengar.

Berdoalah. Bersabarlah.
Pilih kata-kata dengan hati-hati.
Sampaikan kebenaran dengan kasih.

Sebab terkadang, hati yang tidak dapat ditembus oleh kekerasan justru dapat dibuka oleh kelembutan.