
Amsal 12:11
Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia adalah orang yang tidak berakal budi.
Kita hidup di zaman ketika banyak hal berlomba mendapatkan perhatian kita.
Ada begitu banyak hal yang bisa dikerjakan, dikejar, dan diinginkan.
Namun, sibuk tidak selalu berarti produktif.
Amsal 12:11 memberikan gambaran yang sangat sederhana: seseorang yang mengerjakan tanahnya akan menikmati hasilnya.
Ia tidak mencari jalan pintas.
Ia mengerjakan apa yang ada di hadapannya dan menunggu hasil dari proses tersebut.
Masalahnya, kita sering tergoda untuk meninggalkan “tanah kita” dan mengejar sesuatu yang kelihatannya lebih menarik.
Kita meninggalkan pekerjaan yang sedang dibangun demi peluang yang belum tentu nyata.
Kita meninggalkan tanggung jawab karena tergoda oleh sesuatu yang lebih menyenangkan.
Kita ingin hasil yang cepat, tetapi tidak mau menjalani proses yang diperlukan.
Padahal, hal-hal yang bernilai biasanya membutuhkan ketekunan.
Mengerjakan “tanah” kita berarti setia melakukan apa yang Tuhan percayakan kepada kita—bekerja dengan sungguh-sungguh, mengembangkan apa yang ada, menjalankan tanggung jawab, dan tidak meremehkan proses kecil yang sedang berlangsung.
Tidak semua kesempatan harus dikejar.
Tidak semua hal yang menarik layak menjadi tujuan.
Hari ini, mungkin pertanyaannya bukan, “Apa lagi yang bisa saya kejar?” tetapi:
“Apakah saya sudah mengerjakan dengan setia apa yang Tuhan percayakan kepada saya?”
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang baru, sementara “tanah” yang Tuhan berikan kepada kita justru dibiarkan tidak dikerjakan.
Kesetiaan pada pekerjaan yang benar sering kali lebih berharga daripada mengejar banyak hal yang belum tentu menghasilkan.
Jangan habiskan hidup mengejar yang sia-sia; kerjakan dengan setia apa yang Tuhan percayakan.
