Panggilan Suara yang Harus Ditolak

Panggilan Suara yang Harus Ditolak


Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu. Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota, dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata: ”Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada orang yang tidak berakal budi katanya:


Setiap hari kita mendengar banyak suara.

Ada suara dari keluarga, teman, lingkungan kerja, media sosial, budaya, bahkan dari dalam diri kita sendiri.

Masing-masing menawarkan pendapat, nasihat, dan jalan yang kelihatannya masuk akal.

Dalam bagian ini, perempuan bebal juga memiliki suara.

Ia duduk di tempat yang mudah terlihat dan memanggil orang-orang yang lewat.

Ia bahkan menggunakan undangan yang terdengar sederhana:

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari.”

Bukankah demikian juga cara banyak godaan bekerja?

Ia tidak selalu datang dengan mengatakan, “Mari lakukan sesuatu yang jahat.”

Sering kali ia berkata:

“Coba saja.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Sekali ini saja.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Jangan terlalu serius.”

Undangannya terdengar biasa. Bahkan mungkin terasa menyenangkan.

Itulah sebabnya kita tidak boleh menilai sebuah suara hanya dari seberapa menarik perkataannya.

Kita perlu bertanya:
“Apakah suara ini membawa saya semakin dekat kepada hikmat Tuhan, atau justru menjauhkan saya dari-Nya?”

Perempuan bebal dalam bagian ini menarik orang yang belum memiliki kemampuan untuk membedakan.

Karena itu, salah satu tanda kedewasaan bukanlah bahwa kita mendengar semakin sedikit suara, tetapi bahwa kita semakin mampu membedakan suara mana yang layak didengar.

Tidak semua nasihat harus diterima.
Tidak semua pendapat harus dipercaya.
Tidak semua ajakan harus diikuti.

Hari ini mungkin ada sebuah suara yang sedang memanggil kita.

Mungkin suara untuk berkompromi dengan kebenaran.
Mungkin suara untuk membalas seseorang.
Mungkin suara untuk mengejar sesuatu dengan mengorbankan prinsip.

Atau mungkin suara yang mengatakan bahwa kita tidak perlu terlalu peduli dengan hikmat Tuhan.

Jangan berhenti hanya karena suara itu memanggil.

Belajarlah mengenali siapa yang berbicara dan ke mana suara itu membawa kita.