
Amsal 7:24-25
Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, perhatikanlah perkataan mulutku. Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalannya, janganlah menempuh jalan-jalannya.
Ada kejatuhan yang sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum seseorang benar-benar jatuh.
Orang lain mungkin baru melihat ketika keputusan yang salah dibuat.
Ketika sebuah hubungan mulai disembunyikan.
Ketika sebuah kebiasaan dosa akhirnya terbongkar.
Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Tetapi Tuhan melihat bahwa prosesnya sering kali dimulai lebih awal—di dalam hati.
Itulah sebabnya setelah menceritakan panjang lebar tentang seorang muda yang terjerat oleh bujukan perempuan jalang, Salomo berhenti sejenak dan memberikan peringatan kepada pembacanya: “Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku.”
Seakan-akan Salomo berkata, “Jangan hanya membaca kisah ini sebagai cerita tentang orang lain. Belajarlah sebelum hal yang sama terjadi kepadamu.”
Kemudian muncul kalimat yang sangat penting: “Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalannya.”
Perhatikan bahwa Salomo tidak pertama-tama berkata, “Jangan melakukan dosa.” Ia berkata, “Jangan biarkan hatimu membelok.”
Karena sebelum kaki berjalan ke tempat yang salah, hati biasanya sudah lebih dahulu menginginkannya.
Seseorang dapat tetap terlihat baik di luar, tetapi diam-diam mulai menikmati sesuatu yang seharusnya ia jauhi.
Ia mulai memberi ruang bagi pikiran tertentu.
Ia mulai menikmati perhatian yang seharusnya tidak dinikmati.
Ia mulai membenarkan percakapan yang sebelumnya ia tahu tidak benar.
Ia mulai berkata dalam hati, “Tidak apa-apa, saya masih bisa mengendalikan diri.”
Di sinilah bahaya pencobaan sering kali tidak disadari.
Kita membayangkan bahwa masalahnya adalah ketika kita akhirnya melakukan dosa.
Padahal sering kali masalah yang lebih awal adalah ketika hati mulai tertarik kepadanya.
Pencobaan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang jelas-jelas jahat.
Justru sering kali ia datang dalam bentuk sesuatu yang terasa menyenangkan, masuk akal, atau tidak berbahaya. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya tindakan kita, tetapi juga arah hati kita.
Salomo menggunakan gambaran tentang jalan.
Jalan menunjukkan arah.
Ketika seseorang mulai berjalan di sebuah jalan, ia sedang bergerak menuju suatu tujuan. Demikian juga dengan kehidupan.
Setiap keputusan kecil dapat mengarahkan kita kepada sesuatu.
Kita tidak tiba-tiba berada jauh dari Tuhan dalam satu malam. Sering kali ada banyak langkah kecil sebelumnya.
Satu kompromi.
Satu kebiasaan yang dibiarkan.
Satu percakapan yang seharusnya dihentikan tetapi diteruskan.
Satu pikiran yang terus dipelihara.
Satu keinginan yang tidak pernah dibawa kepada Tuhan.
Kemudian, tanpa terasa, apa yang dahulu membuat kita tidak nyaman mulai terasa biasa.
Itulah sebabnya nasihat Amsal ini begitu relevan: jangan tunggu sampai jalan itu membawa kita terlalu jauh.
Ada saat ketika kita perlu berhenti dan bertanya dengan jujur: “Ke mana sebenarnya hati saya sedang bergerak?”
Bukan hanya, “Apa yang sedang saya lakukan?” tetapi, “Apa yang mulai saya inginkan?”
Bukan hanya, “Apakah ini sudah menjadi dosa?” tetapi, “Apakah ini sedang membawa hati saya semakin dekat kepada dosa?”
Pertanyaan seperti ini penting karena hati manusia mudah memberikan alasan.
Kita dapat menemukan pembenaran untuk hampir semua hal yang sudah kita inginkan.
Ketika hati sudah membelok, pikiran sering kali ikut mencari alasan untuk membenarkan arah tersebut.
Karena itu, hikmat bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar dan salah.
Hikmat juga berarti memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan peringatan sebelum kita mengalami akibat dari pilihan yang salah.
Salomo berkata, “dengarkanlah aku, perhatikanlah perkataan mulutku.”
Ada sesuatu yang sangat penting di sini: orang yang bijaksana bersedia mendengarkan sebelum terlambat.
Kita hidup dalam budaya yang sering mengatakan, “Ikuti kata hatimu.”
Tetapi Alkitab justru mengajarkan agar hati kita diarahkan oleh kebenaran.
Tidak semua keinginan layak diikuti.
Tidak semua perasaan adalah kompas yang benar.
Tidak semua ketertarikan harus diberi ruang.
Ada keinginan yang harus ditolak, bukan dipelihara.
Ada pintu yang harus ditutup, bukan dicoba dibuka sedikit.
Ada jalan yang harus dihindari, bukan dijelajahi untuk mengetahui seberapa dekat kita dapat berjalan tanpa jatuh.
Dan semuanya dimulai dari hati.
Mungkin hari ini tidak ada sesuatu yang terlihat salah dalam hidup kita.
Namun mungkin ada sesuatu yang sedang perlahan membelokkan hati kita.
Sesuatu yang terus kita pikirkan.
Sesuatu yang mulai kita rindukan.
Sesuatu yang kita tahu tidak sehat, tetapi belum bersedia kita lepaskan.
Jangan abaikan tanda itu.
Tuhan tidak memberikan peringatan untuk membatasi sukacita kita, tetapi untuk menjaga kita dari kehancuran.
Nasihat hikmat adalah bentuk kasih.
Ketika Tuhan berkata, “Jangan tempuh jalan itu,” Dia sedang menunjukkan bahwa ada jalan yang pada akhirnya tidak membawa kita kepada kehidupan.
Karena itu, jangan hanya menjaga langkahmu. Jagalah arah hatimu.
Sebab hati yang terus dibiarkan membelok pada akhirnya akan membawa kaki mengikuti arahnya.
Hari ini mungkin masih ada waktu untuk berhenti.
Masih ada kesempatan untuk menarik diri.
Masih ada kesempatan untuk mengakui bahwa hati kita mulai tertarik kepada sesuatu yang salah.
Jangan menunggu sampai dosa menjadi tindakan yang tidak dapat disembunyikan lagi.
Dengarkan hikmat sebelum terlambat.
Perhatikan hati sebelum membelok.
Dan ketika Tuhan menunjukkan bahwa kita sedang berada di jalan yang salah, jangan terus berjalan hanya karena kita sudah memulainya.
Berbaliklah !
Kejatuhan sering dimulai bukan ketika kaki melangkah, tetapi ketika hati mulai membelok.
