Jangan Sampai Kehilangan Kejernihan

Jangan Sampai Kehilangan Kejernihan


Tidaklah pantas bagi raja, Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar meminum minuman keras, supaya jangan karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak semua orang yang tertindas.


Sebuah kebiasaan.
Sebuah kesenangan.
Sebuah ambisi.
Sebuah keinginan untuk dipuji.
Bahkan sesuatu yang sebenarnya boleh dinikmati.

Masalahnya bukan selalu pada benda atau aktivitas itu sendiri.

Masalah muncul ketika kita tidak lagi mengendalikannya, tetapi justru kita yang dikendalikan olehnya.

Seorang raja tidak boleh kehilangan kejernihan pikirannya.  

Ia memiliki tanggung jawab terhadap orang lain.

Jika ia kehilangan kendali atas dirinya, keputusan yang salah dapat merugikan orang yang berada di bawah kepemimpinannya.

Ini bukan hanya persoalan seorang raja.

Seorang ayah yang tidak mampu mengendalikan emosinya dapat melukai keluarganya.

Seorang pemimpin gereja yang tidak mampu mengendalikan egonya dapat melukai jemaat.

Seorang atasan yang tidak mampu mengendalikan ambisinya dapat memperlakukan bawahannya dengan tidak adil.

Bahkan kita sendiri dapat kehilangan arah ketika sesuatu yang kita sukai mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan.

Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya:
“Apakah ini boleh?”

Tetapi:
“Apakah saya masih mengendalikan hal ini, atau justru hal ini sudah mengendalikan saya?”

Kebijaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang boleh, tetapi juga mengetahui kapan harus berhenti.

Semakin besar tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin penting pengendalian diri.

Sebab pada akhirnya, masalahnya bukan hanya bagaimana kita menjalani hidup kita sendiri.

Cara kita mengendalikan diri akan menentukan bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Maka:
Jangan biarkan kesenangan menguasai keputusanmu.
Jangan biarkan emosi menguasai perkataanmu.
Jangan biarkan ambisi menguasai hatimu.
Jangan biarkan kekuasaan menguasai karaktermu.