
Amsal 13:1
Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan.
Tidak banyak orang yang senang ditegur.
Bahkan ketika teguran itu benar dan disampaikan dengan kasih, respons pertama kita sering kali adalah membela diri.
Kita mencari alasan, menjelaskan keadaan, atau bahkan menyalahkan orang lain.
Hati manusia secara alami lebih suka dipuji daripada dikoreksi.
Namun Salomo mengajarkan bahwa salah satu tanda paling jelas dari kebijaksanaan adalah kesediaan untuk mendengarkan didikan.
Anak yang bijak tidak selalu berarti anak yang sempurna.
Ia bisa saja melakukan kesalahan.
Ia bisa saja gagal.
Tetapi ketika ditegur, ia mau mendengar. Ia tidak langsung menutup telinga atau mengeraskan hati.
Sebaliknya, pencemooh digambarkan sebagai orang yang menolak hardikan.
Masalah utamanya bukan kurangnya informasi, melainkan kesombongan hati.
Ia merasa dirinya sudah tahu.
Ia menganggap nasihat sebagai gangguan.
Ia melihat teguran sebagai serangan pribadi.
Karena itu, ia kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.
Dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan sering memakai berbagai sarana untuk mendidik kita.
Kadang melalui orang tua.
Kadang melalui pasangan.
Kadang melalui sahabat, pemimpin rohani, atau rekan kerja.
Bahkan tidak jarang Tuhan memakai kegagalan dan konsekuensi dari keputusan kita sendiri untuk mengajarkan sesuatu yang penting.
Pertanyaannya bukan apakah kita pernah melakukan kesalahan. Semua orang pernah salah.
Pertanyaannya adalah bagaimana respons kita ketika kesalahan itu ditunjukkan.
Apakah kita langsung defensif?
Apakah kita marah?
Apakah kita mencari alasan?
Ataukah kita bertanya, “Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan melalui situasi ini?”
Sikap menerima didikan sebenarnya adalah cerminan kerendahan hati.
Orang yang rendah hati menyadari bahwa dirinya belum selesai dibentuk. Ia tahu bahwa masih ada area kehidupan yang perlu diperbaiki.
Karena itu, ia tidak takut menerima koreksi.
Ia memahami bahwa tujuan teguran yang benar bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun.
Yesus sendiri memberikan teladan kerendahan hati yang sempurna.
Walaupun Ia adalah Anak Allah, Ia hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa.
Jika Tuhan yang sempurna saja hidup dalam sikap tunduk kepada kehendak Bapa, terlebih lagi kita yang masih penuh keterbatasan dan kelemahan.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang berbicara melalui seseorang yang mengingatkan kita tentang sesuatu.
Mungkin ada kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Mungkin ada sikap yang perlu diubah.
Mungkin ada keputusan yang perlu dipertimbangkan ulang.
Jangan terburu-buru menolak hanya karena teguran itu terasa tidak nyaman.
Sering kali pertumbuhan terbesar dalam hidup justru lahir dari momen-momen koreksi yang paling sulit diterima.
Teguran yang benar mungkin melukai ego kita untuk sesaat, tetapi dapat menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar di kemudian hari.
Orang bijak bukanlah orang yang tidak pernah ditegur.
Orang bijak adalah orang yang mau belajar ketika ditegur.
Kiranya Tuhan memberi kita hati yang lembut, telinga yang terbuka, dan kerendahan hati untuk menerima didikan-Nya.
Sebab masa depan yang bijaksana sering kali dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan koreksi hari ini.
Orang bijak tidak diukur dari seberapa banyak ia tahu, melainkan dari seberapa mau ia belajar ketika dikoreksi.
Special note:
Happy Birthday, Sam Alvin Onggo.
The most handsome firstborn and exclusive team boy member.
From: Your father, who will always love you unconditionally.