
Amsal 14:6
Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa dua orang bisa mendengarkan khotbah yang sama, membaca buku yang sama, atau mengikuti pelajaran Alkitab yang sama, tetapi menghasilkan respons yang sangat berbeda?
Yang satu mengalami perubahan hidup, sedangkan yang lain berkata, “Saya sudah tahu itu,” lalu pulang tanpa ada perubahan apa pun.
Perbedaannya sering kali bukan terletak pada kualitas pengajarnya, melainkan pada kondisi hati pendengarnya.
Inilah yang sedang diajarkan oleh Amsal 14:6.
Ayat ini mengatakan bahwa seorang pencemooh juga mencari hikmat. Ini cukup mengejutkan.
Kita mungkin mengira pencemooh tidak pernah tertarik pada hikmat. Namun ternyata ia juga mencarinya.
Ia bisa membaca banyak buku, mengikuti berbagai kelas, bahkan aktif dalam pelayanan. Dari luar, ia tampak haus akan pengetahuan.
Namun Alkitab berkata bahwa semua usahanya menjadi sia-sia. Mengapa?
Karena hikmat tidak pernah diberikan kepada hati yang terus-menerus ingin membenarkan dirinya sendiri. Hikmat diberikan kepada hati yang bersedia diubah.
Pencemooh selalu datang dengan kesimpulannya sendiri.
Ia tidak datang untuk belajar, tetapi untuk menghakimi.
Ia tidak datang untuk menerima kebenaran, tetapi mencari alasan agar tetap mempertahankan pendapatnya.
Ketika firman Tuhan menegurnya, ia segera mencari pembenaran.
Ketika menerima nasihat, ia lebih sibuk mencari kelemahan pemberi nasihat daripada mendengarkan isi nasihat tersebut.
Akibatnya, semakin banyak ia belajar, semakin sedikit ia berubah.
Sebaliknya, orang yang berpengertian memiliki sikap yang berbeda.
Ia menyadari bahwa dirinya masih perlu belajar. Ia tidak merasa sudah selesai dibentuk Tuhan.
Ketika firman menegurnya, ia bertanya, “Tuhan, apa yang ingin Engkau ubah dalam hidupku?”
Ketika menerima kritik, ia tidak langsung membela diri, tetapi lebih dahulu memeriksa dirinya.
Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa pengetahuan “mudah diperoleh” olehnya.
Bukan karena ia lebih pintar, tetapi karena ia lebih rendah hati.
Sering kali kita mengira bahwa penghalang terbesar untuk bertumbuh adalah kurangnya informasi.
Padahal, di zaman sekarang justru informasi tersedia di mana-mana.
Kita memiliki Alkitab dalam berbagai terjemahan, ribuan khotbah, podcast Kristen, video pembelajaran, buku-buku rohani, dan begitu banyak sumber lainnya.
Masalah terbesar bukan lagi kekurangan pengetahuan. Masalah terbesar adalah apakah hati kita masih mau diajar.
Seseorang bisa mengetahui banyak ayat Alkitab tetapi tetap sulit mengampuni.
Ia bisa memahami doktrin dengan baik tetapi mudah marah.
Ia bisa menjelaskan teologi dengan sangat rinci tetapi tidak mau menerima teguran. Pengetahuan yang tidak disertai kerendahan hati tidak akan menghasilkan hikmat.
Yesus sendiri berkata bahwa Bapa menyatakan kebenaran kepada orang-orang yang rendah hati, seperti anak-anak, bukan kepada mereka yang merasa dirinya paling berhikmat (Matius 11:25).
Ini bukan berarti Tuhan menolak orang cerdas, tetapi Tuhan menolak kesombongan yang membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan pengajaran.
Hari ini, sebelum membuka Alkitab, mengikuti ibadah, atau mendengarkan renungan, mungkin doa yang paling penting bukanlah, “Tuhan, berikan aku pengetahuan baru,” melainkan, “Tuhan, berikan aku hati yang mau diajar.”
Karena ketika hati kita rendah di hadapan Tuhan, bahkan satu ayat sederhana dapat mengubah hidup kita.
Namun ketika hati kita keras, ribuan khotbah pun bisa berlalu tanpa menghasilkan perubahan apa pun.
Hikmat sejati selalu dimulai dari hati yang rela belajar, rela ditegur, dan rela diubahkan oleh Tuhan setiap hari.
Hikmat tidak sulit ditemukan; yang sering sulit adalah memiliki hati yang mau diajar.