
Amsal 11:9
Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.
Kita hidup di zaman ketika kata-kata menyebar lebih cepat daripada sebelumnya.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah komentar, unggahan, atau pesan dapat menjangkau ribuan orang.
Sayangnya, tidak semua perkataan dipakai untuk membangun. Banyak orang justru menggunakan mulutnya untuk menghakimi, menyebarkan gosip, mempermalukan orang lain, atau memutarbalikkan fakta demi kepentingannya sendiri.
Amsal 11:9 mengingatkan bahwa hal seperti ini sebenarnya bukanlah fenomena baru.
Sejak ribuan tahun lalu, Salomo sudah melihat bahwa orang fasik sering memakai mulutnya sebagai alat penghancur.
Mereka mungkin tidak mengangkat senjata, tetapi perkataan mereka mampu melukai hati, menghancurkan nama baik, memecah hubungan, bahkan merusak kehidupan orang lain.
Karena itu, sebagai anak Tuhan kita tidak boleh menganggap enteng setiap kata yang keluar dari mulut kita.
Sebelum berbicara, kita perlu bertanya:
Apakah perkataan ini membangun atau justru meruntuhkan?
Apakah ini membawa damai atau menambah luka?
Apakah ini menyatakan kasih Kristus atau hanya melampiaskan emosi?
Namun ayat ini tidak berhenti pada peringatan. Ada sebuah janji yang menguatkan: “orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.”
Pengetahuan yang dimaksud bukan sekadar banyak membaca atau memiliki pendidikan tinggi. Yang dimaksud adalah hikmat yang lahir dari hubungan dengan Tuhan.
Semakin seseorang mengenal firman-Nya, semakin ia mampu membedakan mana perkataan yang benar dan mana yang menyesatkan.
Ia tidak mudah termakan fitnah, tidak cepat percaya gosip, dan tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain.
Di dunia yang penuh informasi dan opini, hikmat menjadi perlindungan yang sangat berharga.
Orang yang berjalan bersama Tuhan akan belajar mendengar lebih banyak daripada berbicara.
Ia memilih memeriksa kebenaran sebelum menyebarkannya.
Ia juga belajar menggunakan lidahnya untuk menghibur, menguatkan, menasihati, dan membawa damai.
Renungan hari ini juga mengajak kita melakukan introspeksi.
Mungkin kita bukan korban dari perkataan orang lain, tetapi tanpa sadar pernah menjadi sumber luka bagi sesama.
Mungkin ada kata-kata yang kita ucapkan dalam kemarahan, candaan yang menyakitkan, atau komentar yang menjatuhkan.
Tuhan memanggil kita untuk bertobat dan meminta agar Roh Kudus menguduskan lidah kita.
Kiranya setiap kata yang keluar dari mulut kita menjadi saluran kasih karunia, bukan alat kehancuran.
Dan ketika kita menghadapi perkataan yang menyakitkan dari orang lain, jangan membalas dengan cara yang sama.
Biarlah hikmat Tuhan menjaga hati kita sehingga kita tetap berjalan dalam kebenaran.
Sebab pada akhirnya, bukan suara manusia yang menentukan hidup kita, melainkan firman Tuhan yang memberi hidup dan keselamatan.
Lidah yang dipimpin emosi melukai sesama, tetapi lidah yang dipimpin hikmat memuliakan Tuhan.