Untung Besar Tetapi Tidak Membanggakan


Tidak baik, tidak baik!” kata si pembeli, tetapi sesudah pergi ia memuji dirinya


Saat ingin membeli sesuatu, ia mengatakan bahwa barang tersebut terlalu mahal, kualitasnya biasa saja, atau nilainya tidak sebanding dengan harga yang ditawarkan.

Ia terus menawar hingga mendapatkan harga yang diinginkan.

Namun, setelah berhasil membelinya dengan harga murah, ia justru merasa bangga karena menganggap dirinya berhasil mendapatkan keuntungan besar.

Sekilas, perilaku seperti ini tampak biasa.

Bukankah setiap orang ingin mendapatkan harga terbaik?

Bukankah kemampuan bernegosiasi merupakan bagian dari kecakapan dalam mengelola keuangan?

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan menawar harga atau mencari penawaran yang lebih menguntungkan.

Amsal 20:14 menyingkapkan sikap seseorang yang sengaja merendahkan nilai barang di hadapan penjual, padahal setelah transaksi selesai, ia merasa sangat puas dengan apa yang diperolehnya.

Ia menggunakan perkataan yang berbeda untuk mencapai kepentingannya.

Di hadapan penjual, barang itu dianggap tidak berharga.  Setelah mendapatkannya, ia justru menganggap transaksi tersebut sebagai keberhasilan.

Perilaku ini memperlihatkan bahwa seseorang dapat menggunakan perkataan bukan untuk menyatakan kebenaran, melainkan untuk mengendalikan keadaan demi keuntungan dirinya sendiri.

Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, seseorang dapat mulai membenarkan kebohongan kecil, manipulasi, bahkan tindakan yang merugikan orang lain.

Ia mungkin merasa puas karena berhasil menghemat uang atau mendapatkan keuntungan lebih besar, tetapi tidak menyadari bahwa integritasnya sedang dikorbankan.

Prinsip ini berlaku jauh melampaui kegiatan jual beli.

Dalam dunia pekerjaan, seseorang mungkin melebih-lebihkan hasil kerjanya agar mendapat penghargaan.

Dalam bisnis, seseorang mungkin menyembunyikan informasi penting agar pihak lain menyetujui kesepakatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin menceritakan keadaan secara tidak utuh supaya dirinya terlihat lebih baik atau memperoleh keuntungan tertentu.

Semua tindakan tersebut memiliki kesamaan: kebenaran ditempatkan di bawah kepentingan pribadi.

Keberhasilan finansial tidak otomatis menunjukkan bahwa kita telah bertindak dengan benar.

Seseorang dapat memperoleh keuntungan besar, tetapi jika keuntungan itu didapat melalui ketidakjujuran, ia tidak sedang menjalankan hikmat yang berasal dari Tuhan.

Karena itu, kita perlu belajar membangun kehidupan yang tidak bergantung pada kemampuan mengakali orang lain.

Kita boleh menjadi pedagang yang cakap, pengusaha yang berhasil, pekerja yang produktif, dan pribadi yang pandai mengelola keuangan.

Namun, semua kemampuan tersebut harus berjalan bersama kejujuran dan integritas.

Jangan sampai kita begitu sibuk menghitung berapa banyak keuntungan yang berhasil diperoleh, tetapi lupa menghitung harga yang harus dibayar ketika kepercayaan orang lain hilang.

Pada akhirnya, keberhasilan yang sejati bukan hanya tentang seberapa besar keuntungan yang kita dapatkan, melainkan tentang apakah kita tetap menjadi pribadi yang benar ketika ada kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak dengan cara yang salah.

Sebab, orang yang hidup dalam hikmat Tuhan tidak perlu mengorbankan kejujurannya untuk mencapai keberhasilan.

Ia memahami bahwa keuntungan dapat dihitung dengan uang, tetapi nilai integritas tidak dapat diukur dengan harga apa pun.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *