Ketika Akar Menentukan Buah


Orang fasik mengingini keuntungan dari jerih payah orang lain, tetapi akar orang benar menghasilkan buah.


Kita ingin sukses, tetapi tidak selalu ingin menjalani prosesnya.

Kita ingin dipercaya, tetapi tidak selalu mau membangun integritas.

Kita ingin dihargai, tetapi tidak selalu mau bekerja dengan setia ketika tidak ada yang melihat.

Kita ingin menikmati buah kehidupan orang lain, tetapi tidak mau membangun akar kehidupan kita sendiri.

Amsal mengatakan bahwa orang fasik mengingini keuntungan dari jerih payah orang lain.

Ia tertarik pada hasil, bukan pada proses.

Ia melihat apa yang dimiliki orang lain dan ingin mendapatkannya tanpa harus membangun apa yang membentuk hasil tersebut.

Akar memang tidak menarik untuk dilihat.
Akar bekerja dalam kegelapan.

Tidak ada yang memuji akar.
Tidak ada yang memotret akar.

Namun, akar menentukan apakah sebuah pohon dapat bertahan dan menghasilkan buah.

Karakter dibangun ketika tidak ada yang melihat.

Integritas dibangun ketika kita bisa memilih jalan yang mudah.

Iman dibangun ketika doa belum dijawab. Kesetiaan dibangun ketika tidak ada penghargaan.

Karena itu, jangan terlalu cepat iri melihat “buah” kehidupan orang lain.

Kita tidak tahu berapa lama mereka membangun akarnya.

Jangan hanya bertanya, “Mengapa hidup saya belum menghasilkan seperti mereka?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Sedang seperti apa akar kehidupan saya?”

Tetaplah jujur ketika kejujuran tidak menguntungkan.

Tetaplah bekerja dengan sungguh-sungguh ketika tidak ada yang memperhatikan.

Tetaplah setia kepada Tuhan ketika hasilnya belum terlihat.

Jangan hidup dengan mengambil buah orang lain.

Bangunlah akar yang benar di hadapan Tuhan.

Dan ketika waktunya tiba, biarlah kehidupan kita menghasilkan buah yang bukan hanya dapat kita nikmati sendiri, tetapi juga dapat menjadi berkat bagi orang lain.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *