
Amsal 31:4-5
Tidaklah pantas bagi raja, Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar meminum minuman keras, supaya jangan karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak semua orang yang tertindas.
Ada banyak hal dalam hidup yang pada awalnya terlihat kecil dan tidak berbahaya.
Sebuah kebiasaan.
Sebuah kesenangan.
Sebuah ambisi.
Sebuah keinginan untuk dipuji.
Bahkan sesuatu yang sebenarnya boleh dinikmati.
Masalahnya bukan selalu pada benda atau aktivitas itu sendiri.
Masalah muncul ketika kita tidak lagi mengendalikannya, tetapi justru kita yang dikendalikan olehnya.
Itulah sebabnya Amsal 31 memberikan peringatan yang sangat keras kepada seorang raja.
Seorang raja tidak boleh kehilangan kejernihan pikirannya.
Ia memiliki tanggung jawab terhadap orang lain.
Jika ia kehilangan kendali atas dirinya, keputusan yang salah dapat merugikan orang yang berada di bawah kepemimpinannya.
Perhatikan urutannya:
Kehilangan kendali → kehilangan kejernihan → melupakan kebenaran → keputusan yang salah → orang lain menjadi korban.
Ini bukan hanya persoalan seorang raja.
Seorang ayah yang tidak mampu mengendalikan emosinya dapat melukai keluarganya.
Seorang pemimpin gereja yang tidak mampu mengendalikan egonya dapat melukai jemaat.
Seorang atasan yang tidak mampu mengendalikan ambisinya dapat memperlakukan bawahannya dengan tidak adil.
Bahkan kita sendiri dapat kehilangan arah ketika sesuatu yang kita sukai mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan.
Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya:
“Apakah ini boleh?”
Tetapi:
“Apakah saya masih mengendalikan hal ini, atau justru hal ini sudah mengendalikan saya?”
Tidak semua yang boleh dilakukan berarti baik dilakukan tanpa batas.
Kebijaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang boleh, tetapi juga mengetahui kapan harus berhenti.
Semakin besar tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin penting pengendalian diri.
Sebab pada akhirnya, masalahnya bukan hanya bagaimana kita menjalani hidup kita sendiri.
Cara kita mengendalikan diri akan menentukan bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Maka:
Jangan biarkan kesenangan menguasai keputusanmu.
Jangan biarkan emosi menguasai perkataanmu.
Jangan biarkan ambisi menguasai hatimu.
Jangan biarkan kekuasaan menguasai karaktermu.
Tetaplah menguasai diri, supaya apa yang Tuhan percayakan kepadamu tidak berubah menjadi sesuatu yang justru menghancurkanmu dan orang-orang di sekitarmu.
Semakin besar tanggung jawabmu, semakin besar pula kebutuhanmu untuk mengendalikan diri.