Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup


Si lintah mempunyai dua anak perempuan, yang berkata: ‘Untukku! Untukku!’ Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: ‘Cukup!’ Dunia orang mati dan rahim yang mandul, tanah yang tidak pernah kenyang air dan api yang tidak pernah berkata: ‘Cukup!’


Kita berkata, “Kalau saya sudah memiliki ini, saya akan senang.”
Lalu setelah mendapatkannya, muncul keinginan yang lain.

“Kalau saya punya yang lebih bagus, pasti lebih bahagia.”
Kemudian setelah mendapat yang lebih bagus:

“Kalau saya punya lebih banyak, pasti lebih tenang.”

Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan sesuatu yang berikutnya.

Lintah digambarkan memiliki dua anak perempuan yang terus berkata, “Untukku! Untukku!”

Kalimat itu menggambarkan hati yang selalu menuntut bagian untuk dirinya sendiri.

Bukan lagi, “Apa yang dapat saya berikan?”  Tetapi, “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Bukan lagi, “Apakah ini cukup?”  Tetapi, “Apa lagi yang bisa saya miliki?”

Dan masalahnya, semakin kita mengikuti hati yang seperti ini, semakin hati kita sulit merasa puas.

Alkitab tidak mengatakan bahwa memiliki uang, rumah, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang nyaman adalah dosa.

Masalahnya muncul ketika apa yang kita miliki tidak pernah terasa cukup bagi hati kita.

Kita dapat memiliki sedikit tetapi sangat tamak.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mampu berkata, “Tuhan, terima kasih. Ini cukup.”

Jadi, ukuran keserakahan bukan hanya jumlah yang kita miliki.

Ukuran keserakahan adalah apakah hati kita masih mampu berkata “cukup.”

Semuanya menggambarkan sesuatu yang terus menerima tetapi tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”

Begitu pula hati manusia.

Hari ini kita mengejar satu juta.   Besok sepuluh juta.

Kemudian seratus juta.   Setelah itu satu miliar.

Bukan berarti angka yang lebih besar selalu salah.

Tetapi kita harus berhati-hati ketika kebahagiaan kita selalu ditunda sampai kita memiliki lebih banyak.

Sebab kalau kepuasan kita bergantung pada “lebih”, maka kita sedang mengejar sesuatu yang tidak mempunyai garis akhir.

Ada sesuatu yang perlu kita pelajari: hidup yang diberkati bukan berarti hidup yang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.

Kadang-kadang berkat Tuhan justru membuat kita mampu menikmati apa yang sudah diberikan-Nya.

Kita dapat bekerja keras tanpa diperbudak oleh uang.
Kita dapat memiliki ambisi tanpa menjadi tamak.

Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Kita dapat menginginkan sesuatu tanpa membiarkan keinginan itu menguasai hati.

“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”

Apakah kita sedang mengejar kebutuhan?

Ataukah kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan semakin banyak hal?

Karena bisa jadi masalah kita bukan kekurangan.

Bisa jadi masalah kita adalah hati yang sudah terlalu terbiasa berkata: “Masih kurang.”

Belajarlah berkata cukup.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *