Kasih Bukan Berarti Membiarkan


Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya


Ketika anak berbuat salah, orang tua berkata, “Sudahlah, masih kecil.”

Ketika anak bersikap tidak sopan, dibiarkan.

Ketika anak tidak bertanggung jawab, orang tua membereskan semuanya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mencari alasan untuk membelanya.

Awalnya semua itu mungkin terlihat seperti kasih.

Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang memeluknya ketika menangis.

Anak juga membutuhkan orang tua yang berani berkata, “Tidak. Itu salah.”

Anak tidak hanya membutuhkan pujian. Ia juga membutuhkan teguran.

Anak tidak hanya membutuhkan kebebasan. Ia juga membutuhkan batas.

Anak tidak hanya membutuhkan kasih. Ia membutuhkan kasih yang mendidik.

Artinya, anak tidak otomatis menjadi bijaksana hanya karena bertambah usia.

Hikmat harus dibentuk melalui proses belajar, termasuk melalui koreksi ketika ia mengambil keputusan yang salah.

Di sinilah tanggung jawab orang tua menjadi sangat penting.

Jika setiap konsekuensi selalu diambil alih oleh orang tua, anak tidak belajar menghadapi akibat dari pilihannya.

Jika setiap teguran dianggap sebagai bentuk ketidakcintaan, anak akan tumbuh tanpa kemampuan menerima koreksi.

Disiplin yang benar tidak berkata, “Aku menghukummu karena aku marah kepadamu.”

Disiplin yang benar berkata, “Aku menegurmu karena aku mengasihimu dan aku ingin kamu belajar hidup dengan benar.”

Karena itu, tujuan disiplin bukan sekadar menghentikan perilaku yang salah, tetapi membentuk hati yang belajar mencintai apa yang benar.

Itulah sasaran akhirnya.

Anak yang bijaksana bukan anak yang selalu takut kepada orang tuanya.  

Anak yang bijaksana adalah anak yang suatu hari mampu berkata:
“Saya tahu mengapa itu salah, dan saya memilih untuk tidak melakukannya meskipun tidak ada orang tua yang melihat.”

Itulah keberhasilan sebuah didikan.

Kita pun membutuhkan teguran.

Kadang-kadang Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menunjukkan kesalahan kita.

Kadang-kadang Ia menggunakan pasangan hidup, orang tua, sahabat, pemimpin rohani, atau orang yang mengasihi kita untuk menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat sendiri.

Orang yang tidak mau menerima teguran akan sulit menjadi bijaksana.

Sebaliknya, orang yang bersedia dikoreksi sedang membuka dirinya untuk bertumbuh.

Kasihilah anak-anak kita dengan cukup kuat untuk memeluk mereka, tetapi juga cukup berani untuk menegur mereka.

Dan jika kita adalah anak-anak Tuhan, jangan hanya mencari perkataan yang menyenangkan hati.

Carilah juga teguran yang menyelamatkan kita dari jalan yang salah.

Sebab terkadang, teguran yang paling tidak kita sukai justru adalah teguran yang paling kita butuhkan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *