Bahaya Merasa Diri Bijak


Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.


Ada orang yang tidak tahu jalan tetapi mau bertanya.
Ada orang yang tersesat tetapi mau menerima petunjuk.
Ada orang yang salah tetapi mau kembali.
Ada orang yang belum mengerti tetapi mau belajar.

Orang seperti ini masih memiliki harapan.

Ia tidak mau bertanya.
Ia tidak mau mendengar.
Ia tidak mau menerima petunjuk.

Bahkan ketika orang lain menunjukkan bahwa ia salah, ia tetap mempertahankan jalannya.

Orang seperti inilah yang sedang diperingatkan Salomo.

Mungkin selama ini kita berdoa agar Tuhan memberikan hikmat.

Tetapi Amsal 26:12 mengajak kita melihat sisi yang lain:
Apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk menerima hikmat ketika Tuhan memberikannya?

Sebab Tuhan dapat memberikan nasihat melalui firman-Nya.

Dan juga:
Tuhan dapat memberikan koreksi melalui orang lain.
Tuhan dapat menggunakan pasangan kita.
Tuhan dapat memakai anak-anak kita.
Tuhan dapat memakai rekan pelayanan.

Bahkan Tuhan dapat memakai seseorang yang jauh lebih muda atau lebih sederhana daripada kita.

Maka pertanyaannya bukan:
“Siapa yang memberikan nasihat itu kepada saya?”

Pertanyaannya adalah:
“Apakah Tuhan sedang mengajar saya melalui orang itu?”

Sebab mungkin justru pada saat kita merasa sudah tahu semuanya, kita sedang berhenti belajar.

Hari ini, marilah kita meminta hati yang rendah hati:

“Tuhan, jangan biarkan saya menjadi orang yang merasa sudah tahu semuanya. Beri saya hati yang mau mendengar, mau belajar, mau menerima teguran, dan mau berubah.”

Karena orang yang menyadari bahwa dirinya masih perlu belajar masih memiliki banyak harapan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *