Sahabat Berani Berkata Benar


Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi nasihat seorang adalah manis bagi kawannya.


Pujian membuat kita merasa dihargai, sedangkan teguran kadang melukai harga diri.  Namun, justru melalui teguran yang penuh kasih itulah Tuhan sering membentuk karakter kita.

Orang yang selalu memuji kita belum tentu benar-benar peduli kepada kita.

Sebaliknya, seseorang yang berani menegur kita dengan kasih sering kali sedang menjaga agar kita tidak jatuh lebih dalam.

Di sinilah kita perlu belajar membedakan suara yang hanya ingin membuat kita nyaman dengan suara yang sungguh mengasihi kita.  

Amsal 27:9 mengingatkan bahwa nasihat yang lahir dari hati yang tulus adalah anugerah yang sangat berharga.

Persahabatan menurut hikmat Alkitab bukanlah hubungan yang dibangun atas dasar saling menyenangkan.  

Persahabatan sejati dibangun di atas kasih yang rela berkata jujur.

Sahabat yang baik tidak akan membiarkan temannya terus berjalan menuju kehancuran hanya karena takut merusak hubungan.

Ia memilih mengatakan kebenaran dengan lembut, sekalipun ada risiko disalahpahami.

Kesombongan membuat seseorang merasa dirinya selalu benar.  Akibatnya, setiap masukan dianggap sebagai serangan.

Orang seperti ini sulit bertumbuh karena ia menutup pintu bagi hikmat.  

Sebaliknya, orang yang rendah hati menyadari bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja untuk mengingatkannya, bahkan melalui sahabat, pasangan, orang tua, atau rekan pelayanan.

Aroma harum tidak terlihat, tetapi kehadirannya langsung dirasakan.  Begitu pula nasihat yang lahir dari kasih.

Mungkin pada awalnya terasa tidak nyaman, tetapi seiring waktu akan menghasilkan damai, pertumbuhan, dan sukacita.  

Banyak orang baru menyadari betapa berharganya sebuah nasihat setelah mereka melihat buahnya di kemudian hari.

Kasih sejati menginginkan yang terbaik menurut kehendak Tuhan, bukan sekadar membuat orang lain merasa nyaman.

Karena itu, kasih kadang harus berkata, “Jalan itu berbahaya,” atau, “Keputusan itu tidak bijaksana.”   Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan.

Nasihat yang berasal dari ketulusan hati selalu disampaikan dengan kerendahan hati.

Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, melainkan memenangkan hati saudaranya agar kembali kepada jalan Tuhan.

Mintalah hikmat untuk membedakan apakah nasihat itu lahir dari kasih dan sesuai dengan firman Tuhan.

Jika ya, terimalah dengan hati yang rendah.

Di sisi lain, marilah kita juga menjadi sahabat yang tidak hanya pandai menghibur, tetapi juga berani mengasihi melalui perkataan yang benar, lembut, dan penuh ketulusan.

Sebab satu nasihat yang lahir dari hati yang mengasihi dapat mengubah arah hidup seseorang, bahkan menjadi alat Tuhan untuk menyelamatkannya dari banyak penyesalan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *