Seperti Mencari Harta Karun


Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.


Namun Salomo mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar informasi, yaitu hikmat.

Menariknya, Salomo tidak berkata bahwa hikmat akan datang begitu saja. Ia menggambarkan sebuah proses yang dimulai dengan menerima firman Tuhan.

Di zaman sekarang banyak orang senang mendengar firman yang menghibur, tetapi tidak semua bersedia menerima firman yang menegur dan mengubah hidupnya.

Padahal hati yang mau diajar adalah tanah yang subur bagi pertumbuhan hikmat.

Hikmat tidak bertumbuh dalam kehidupan yang rohani yang pasif.

Ia lahir ketika seseorang dengan sadar menyediakan waktu untuk membaca firman, merenungkannya, mendengarkan pengajaran yang sehat, lalu membiarkan firman itu mengoreksi cara berpikirnya.

Tidak berhenti sampai di sana, Salomo mengajak kita untuk berseru meminta hikmat kepada Allah.

Ini mengingatkan kita bahwa sekalipun seseorang memiliki pendidikan tinggi atau pengalaman hidup yang luas, ia tetap membutuhkan tuntunan Tuhan.

Ada banyak keputusan dalam hidup yang tidak cukup dijawab oleh logika semata. Hikmat Allah memberi kemampuan untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Nya.

Bayangkan seorang penambang yang rela bekerja dari pagi hingga malam, menggali tanah yang keras, menghadapi berbagai kesulitan demi menemukan sedikit saja logam mulia.

Tidak ada orang yang berharap menemukan harta karun tanpa usaha.

Demikian pula seharusnya kerinduan kita terhadap firman Tuhan. Sering kali kita begitu tekun mengejar karier, keuntungan, atau pencapaian pribadi, tetapi hanya memberi sedikit waktu untuk mencari hikmat Allah.

Padahal keuntungan terbesar dalam hidup bukanlah bertambahnya harta, melainkan bertambahnya pengenalan akan Tuhan.

Inilah tujuan utama hikmat. Hikmat bukan sekadar membuat kita lebih pandai berbicara atau lebih berhasil mengelola kehidupan.

Hikmat membawa kita masuk ke dalam hubungan yang semakin intim dengan Tuhan sehingga setiap keputusan, sikap, dan tindakan kita mencerminkan karakter-Nya.

Ketika seseorang semakin mengenal Tuhan, ia akan lebih peka terhadap kehendak-Nya. Ia tidak mudah diombang-ambingkan oleh tren dunia, tidak cepat tergoda oleh dosa, dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan.

Hikmat menjadi kompas yang menuntun langkahnya setiap hari.

Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk mencari hikmat Tuhan?

Apakah kita mencarinya dengan kesungguhan yang sama ketika kita mengejar keberhasilan, kekayaan, atau impian hidup?

Mereka yang rela mencarinya dengan sungguh-sungguh akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu pengenalan yang semakin dalam akan Allah dan kehidupan yang dipimpin oleh-Nya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *