
Amsal 3:11
Hai anakku, janganlah menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.
Sebagian besar orang menyukai berkat, tetapi tidak banyak yang menyukai proses pembentukan.
Kita senang ketika doa dijawab, pintu dibukakan, dan keadaan berjalan sesuai harapan.
Namun ketika Tuhan mulai mengoreksi, menegur, atau mengizinkan situasi yang tidak nyaman terjadi, sering kali respons pertama kita adalah mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi.
Amsal 3:11 mengingatkan bahwa salah satu tanda kedewasaan rohani adalah kemampuan menerima didikan Tuhan dengan hati yang terbuka.
Salomo tidak berkata bahwa didikan Tuhan selalu menyenangkan.
Ia justru memahami bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menolak koreksi. Karena itu ia menasihati, “janganlah menolak” dan “janganlah engkau bosan.”
Menolak didikan Tuhan bisa terjadi dalam banyak bentuk.
Kadang seseorang tahu bahwa Tuhan sedang menegur melalui firman-Nya, tetapi ia memilih mengabaikannya.
Kadang Tuhan menggunakan nasihat orang lain untuk mengingatkan kita, tetapi kita menjadi defensif dan tidak mau mendengar.
Ada juga yang terus mengulangi kesalahan yang sama meskipun Tuhan telah berulang kali menunjukkan jalan yang benar.
Sebaliknya, ada orang yang tidak menolak, tetapi menjadi bosan dan pahit.
Mereka berkata dalam hati, “Mengapa hidupku selalu seperti ini? Mengapa Tuhan terus mengoreksiku?”
Akhirnya mereka kehilangan sukacita dan mulai melihat Tuhan sebagai Pribadi yang hanya mencari kesalahan.
Padahal Alkitab menunjukkan gambaran yang berbeda. Didikan Tuhan lahir dari kasih-Nya.
Seorang ayah yang mengasihi anaknya tidak akan membiarkan anak itu berjalan menuju bahaya tanpa peringatan.
Ia akan menegur, mengarahkan, dan kadang membatasi demi kebaikan anak tersebut.
Demikian pula Tuhan. Ketika Ia mengoreksi kita, tujuan-Nya bukan menghancurkan, melainkan menyelamatkan.
Sering kali kita baru memahami nilai sebuah didikan setelah waktu berlalu.
Pengalaman yang dahulu terasa berat ternyata membentuk kerendahan hati.
Teguran yang dulu membuat kita tidak nyaman ternyata menyelamatkan kita dari keputusan yang lebih buruk.
Kegagalan yang pernah membuat kita kecewa ternyata mengajarkan ketergantungan yang lebih dalam kepada Tuhan.
Tuhan lebih tertarik membangun karakter daripada sekadar memberikan kenyamanan sementara.
Ia ingin membentuk kita menjadi pribadi yang bijaksana, setia, rendah hati, dan takut akan Tuhan.
Proses itu tidak selalu mudah, tetapi selalu memiliki tujuan yang baik.
Karena itu, ketika kita membaca firman Tuhan dan merasa ditegur, jangan buru-buru menutup hati.
Ketika Roh Kudus menunjukkan area kehidupan yang perlu diperbaiki, jangan mencari alasan untuk membenarkan diri.
Ketika Tuhan mengizinkan proses yang membentuk kesabaran dan ketekunan, jangan langsung menganggap bahwa Ia meninggalkan kita.
Mungkin saat ini ada bagian hidup yang sedang Tuhan sentuh.
Mungkin ada kebiasaan yang perlu diubah, sikap yang perlu diperbaiki, atau keputusan yang perlu dievaluasi kembali.
Jangan melihat itu sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mengasihimu.
Justru sebaliknya, itu bisa menjadi bukti bahwa Ia begitu peduli sehingga tidak membiarkanmu tetap berada di jalan yang salah.
Hari ini, mari belajar menerima didikan Tuhan dengan hati yang lembut.
Jangan menolak ketika Ia berbicara.
Jangan bosan ketika Ia menegur.
Percayalah bahwa tangan yang mengoreksi adalah tangan yang sama yang mengasihi, memelihara, dan menuntun hidup kita menuju masa depan yang lebih baik.
Tuhan lebih tertarik membangun karakter daripada sekadar memberikan kenyamanan sementara.