Marah Membuat Bodoh

Marah Membuat Bodoh


Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana bersabar.


Mungkin seseorang menulis sesuatu yang menurut Anda tidak sopan.

Anda membaca sekali, lalu membacanya lagi. Semakin dibaca, semakin kesal.

Jari mulai ingin mengetik balasan.

Dalam kepala sudah tersusun berbagai kalimat untuk membela diri.

Lalu Anda mengirimkannya.

Beberapa jam kemudian, ketika emosi sudah reda, Anda membaca kembali pesan tersebut dan berpikir, “Kenapa tadi saya membalas seperti itu?”

Masalahnya mungkin masih ada.
Orang tersebut mungkin memang salah.
Tetapi sekarang ada masalah baru: respons kita yang lahir dari kemarahan.

Perhatikan kata “lekas.” Salomo bukan hanya berbicara tentang orang yang marah, tetapi tentang orang yang cepat sekali bereaksi ketika marah.

Kita hidup di zaman yang membuat hal ini semakin mudah.

Ketika tersinggung, kita bisa langsung membalas pesan.
Ketika tidak setuju, kita bisa langsung berkomentar.
Ketika kecewa, kita bisa langsung mengumumkannya.

Kita tidak perlu menunggu lama untuk melampiaskan apa yang kita rasakan.

Tetapi kemampuan untuk segera bereaksi bukan berarti kita memiliki hikmat untuk bereaksi dengan benar.

Ketika marah, kita cenderung melihat persoalan hanya dari sudut pandang kita.

Kita mengingat kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kesalahan kita sendiri.

Kita merasa harus segera menjelaskan diri. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar.

Bahkan kita mungkin mulai mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak akan kita katakan jika hati sedang tenang.

Kebodohan di sini bukan berarti seseorang tidak pintar.

Seseorang bisa sangat berpendidikan, berpengalaman, bahkan sangat cerdas, tetapi tetap berlaku bodoh ketika membiarkan kemarahannya mengendalikan perkataan dan tindakannya.

Orang bijaksana bukan orang yang tidak pernah marah.

Orang bijaksana adalah orang yang tidak membiarkan kemarahan menentukan responsnya.

Ia tahu kapan harus berhenti.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu kapan harus menunda jawaban.

Ia tahu bahwa tidak semua perkataan harus dibalas dan tidak semua konflik harus diselesaikan ketika emosi sedang tinggi.

Jarak itu sangat penting.

Di dalam jarak itu kita dapat berpikir.  
Kita dapat berdoa.
Kita dapat mempertimbangkan akibat dari perkataan kita.
Kita dapat melihat persoalan dengan lebih lengkap.

Bahkan mungkin kita menyadari bahwa sesuatu yang awalnya terlihat sangat besar sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Bukan berarti kesabaran membuat kita menjadi lemah.

Justru diperlukan kekuatan untuk menahan diri ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas.

Ada kalanya kita memang harus berbicara.
Ada kalanya kesalahan harus ditegur.
Ada kalanya keputusan harus dibuat.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan cara yang berbeda ketika kita tidak lagi dikuasai oleh emosi.

Jika sebuah pesan membuat marah, tidak harus langsung dibalas.

Jika sebuah percakapan mulai memanas, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Jika seseorang menyakiti kita, jangan langsung menentukan masa depan hubungan berdasarkan emosi beberapa menit.

Berdoalah terlebih dahulu.
Tenangkan hati.
Pikirkan kembali.

Kemudian bertindaklah dengan hikmat.

Kemarahan mungkin datang tanpa kita undang. Tetapi kita tidak harus memberinya kendali.

Jangan biarkan emosi sesaat menghasilkan perkataan yang meninggalkan luka panjang.

Jangan biarkan kemarahan beberapa menit menghasilkan keputusan yang harus kita sesali berbulan-bulan.

Hari ini, ketika sesuatu membuat Anda naik darah, berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apakah saya sedang bertindak dengan hikmat, atau hanya sedang bereaksi karena marah?”

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana bukanlah mengatakan lebih banyak.

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana adalah berhenti, menenangkan hati, dan memberi kesempatan kepada hikmat untuk memimpin.