Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri

Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri


Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.


Kita memberikan waktu.
Memberikan perhatian.
Memberikan pertolongan.
Memberikan pengampunan.

Bahkan terkadang memberikan kesempatan kedua.

Karena itu, ada saat-saat ketika kita merasa bahwa menjadi orang baik hanya membuat kita rugi.

Karena sesungguhnya kemurahan hati membentuk hati kita.

Ketika kita belajar peduli kepada orang lain, hati kita tidak menjadi semakin miskin—justru semakin kaya.

Ketika kita belajar mengampuni, kita tidak kehilangan sesuatu yang berharga—kita sedang dibebaskan dari kepahitan.

Ketika kita menolong seseorang yang membutuhkan, kita bukan sekadar meringankan beban orang itu—kita juga sedang belajar menjadi pribadi yang tidak hidup berpusat pada diri sendiri.

Seseorang mungkin menyakiti orang lain karena merasa sedang mempertahankan dirinya.

Ia menyimpan dendam karena merasa berhak.

Ia menolak mengampuni karena merasa orang lain harus menerima akibat perbuatannya.

Tetapi sedikit demi sedikit, kepahitan yang dipelihara akan menyakiti orang yang menyimpannya.

Hati menjadi keras.
Kasih semakin berkurang.
Hubungan semakin rusak.
Dan hidup menjadi semakin berat.

Tuhan memanggil kita untuk tidak menjadikan luka yang pernah kita terima sebagai alasan untuk melukai orang lain.

Mungkin kita tidak dapat mengubah apa yang sudah dilakukan orang kepada kita.  Tetapi kita dapat memilih siapa kita ketika menghadapi mereka.

Bukan selalu dalam bentuk uang.

Mungkin ia membutuhkan pengertian.
Mungkin ia membutuhkan pengampunan.
Mungkin ia membutuhkan pertolongan.
Mungkin ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Ketika kita memilih untuk hidup dalam kasih dan kemurahan hati, kita sedang membentuk hati yang semakin menyerupai kehendak Tuhan.

Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain juga menjadi kebaikan yang Tuhan kerjakan di dalam diri kita.