Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran

Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran


Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan memeluk dada perempuan lain?


Ada hal-hal yang terlihat indah, menyenangkan, bahkan membuat hati berdebar, tetapi tetap salah karena bukan bagian yang Tuhan berikan kepada kita.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya sudah melakukan dosa?” tetapi juga, “Ke mana keinginan saya sedang membawa saya?”

Seseorang dapat mulai dengan sekadar menikmati perhatian dari orang lain.

Kemudian mulai menunggu pesan darinya.
Mulai mencari kesempatan untuk bertemu.
Mulai membandingkan pasangan sendiri dengan orang tersebut.

Perlahan-lahan, hati mulai memberikan ruang kepada seseorang yang seharusnya tidak diberi ruang.

Itulah sebabnya hikmat tidak menunggu sampai kita jatuh.

Hikmat mengajarkan kita untuk mengenali arah sebelum sampai di tujuan yang salah.

Jika seseorang sudah menikah, kesetiaan bukan hanya berarti tidak berselingkuh secara fisik.

Kesetiaan juga berarti tidak memberi makan keinginan yang dapat membawa kita kepada ketidaksetiaan.

Dan bagi kita semua, prinsipnya lebih luas: jangan membiarkan hati menginginkan sesuatu hanya karena kita mampu mendapatkannya.

Ada banyak hal yang kita inginkan tetapi tidak Tuhan kehendaki.

Kedewasaan rohani terlihat ketika kita mampu berkata:
“Saya menginginkannya, tetapi saya tidak akan mengambilnya, karena saya ingin hidup dalam kehendak Tuhan.”

Godaan tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu yang besar sekaligus.

Sering kali ia hanya meminta kita memberi sedikit ruang kepada sebuah keinginan.

Karena itu, jangan hanya menjaga langkahmu. Jagalah keinginanmu.