Tidak Sadar Tersandung

Tidak Sadar Tersandung


Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.


Ia tidak bisa melihat kursi di depannya. Ia berjalan, lalu tersandung.

Ia bangkit dan berjalan lagi.

Beberapa langkah kemudian, ia tersandung lagi.

Yang menjadi masalah bukan hanya karena ia tersandung.  

Masalahnya adalah ia tidak dapat melihat apa yang membuatnya tersandung.

Dosa dapat bekerja seperti kegelapan.  

Pada awalnya mungkin kita masih tahu bahwa sesuatu itu salah.

Tetapi jika terus-menerus dilakukan, hati dapat menjadi semakin terbiasa.

Apa yang dahulu membuat kita merasa bersalah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu kita hindari mulai kita toleransi.

Yang lebih berbahaya, kita kemudian mulai mencari alasan mengapa kita terus jatuh.

Kita menyalahkan keadaan.
Kita menyalahkan orang lain.
Kita menyalahkan tekanan hidup.
Kita menyalahkan kelemahan kita.

Padahal mungkin masalah utamanya adalah jalan yang kita pilih.

Ini adalah salah satu akibat paling serius dari hidup dalam kegelapan: kita kehilangan kemampuan untuk melihat sumber masalah dengan jujur.

Firman Tuhan bukan hanya menunjukkan ke mana kita harus pergi.
Firman Tuhan juga menunjukkan mengapa kita terus tersandung.

Mungkin ada dosa yang selama ini kita pelihara.
Mungkin ada kebiasaan yang kita anggap kecil.
Mungkin ada kompromi yang terus kita benarkan.

Mungkin ada nasihat yang sebenarnya sudah berkali-kali Tuhan berikan, tetapi kita memilih untuk tidak mendengarkannya.

Mintalah Tuhan menerangi hati kita.

Sebab terkadang yang paling kita perlukan bukan sekadar kekuatan untuk bangkit setelah jatuh, tetapi terang untuk melihat apa yang membuat kita terus jatuh.

Jalan orang benar digambarkan seperti cahaya fajar yang semakin terang.

Tuhan tidak memanggil kita untuk berjalan dalam kegelapan dan menebak-nebak arah.