Tetap Kokoh Berdiri

Tetap Kokoh Berdiri


Orang fasik dijatuhkan sehingga mereka tidak ada lagi, tetapi rumah orang benar berdiri tetap.


Dari luar, kita mungkin hanya melihat dinding, tiang, lantai, dan atap.  

Fondasi berada di bawah tanah.  Tidak terlihat, tetapi justru menentukan apakah bangunan itu akan bertahan atau runtuh.

Demikian juga dengan kehidupan.

Ada orang yang kelihatannya sangat kuat.  Kariernya baik, keuangannya stabil, relasinya luas, pengaruhnya besar, dan hidupnya tampak berhasil.

Dari luar, semuanya terlihat kokoh. Tetapi kekuatan yang sesungguhnya tidak selalu dapat dilihat dari apa yang tampak.

Perhatikan bahwa Salomo tidak mengatakan orang fasik tidak pernah berdiri.  Justru mereka mungkin terlihat sangat kuat.

Mereka dapat membangun banyak hal.  

Mereka dapat memperoleh kekayaan, jabatan, pengaruh, bahkan penghormatan manusia.

Tetapi semua itu tidak menjamin bahwa apa yang mereka bangun akan bertahan.

Sebaliknya, ada orang benar yang kehidupannya mungkin tidak terlihat spektakuler.

Ia tidak selalu menjadi orang yang paling kaya.
Tidak selalu mendapatkan posisi tertinggi.
Tidak selalu memiliki banyak pengikut.

Bahkan mungkin hidupnya mengalami banyak kesulitan.

Karena yang membuat sebuah kehidupan kokoh bukan terutama seberapa tinggi yang berhasil dibangun, melainkan di atas dasar apa semuanya dibangun.

Orang benar dalam kitab Amsal bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Orang benar adalah orang yang memilih hidup dalam takut akan Tuhan.

Ia menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman.

Ia mungkin jatuh, tetapi ia kembali.
Ia mungkin gagal, tetapi ia tidak meninggalkan Tuhan.

Ia mungkin mengalami tekanan, tetapi ia tetap memilih jalan kebenaran.

Itulah sebabnya kehidupannya memiliki daya tahan.

Kita sering menghabiskan banyak energi untuk membangun sesuatu yang dapat dilihat orang.

Kita membangun karier.
Kita membangun bisnis.
Kita membangun rumah.
Kita membangun reputasi.
Kita membangun jaringan.
Kita membangun masa depan anak-anak kita.

Semua itu tidak salah.

Sebab pada akhirnya, banyak hal yang kita bangun akan mengalami ujian.

Kekayaan dapat berkurang.
Jabatan dapat hilang.
Kesehatan dapat berubah.
Relasi dapat mengalami konflik.
Rencana dapat gagal.

Orang-orang yang dahulu mendukung kita dapat pergi.
Bahkan sesuatu yang kita pikir akan bertahan selamanya dapat tiba-tiba berubah.

Pada saat itulah fondasi kehidupan menjadi terlihat.

Dua orang sama-sama membangun rumah. Dari luar, mungkin rumah mereka terlihat sama.

Tetapi ketika hujan turun, banjir datang, dan angin bertiup, perbedaan fondasi mereka menjadi nyata.

Faktanya: Badai tidak menentukan fondasi. Badai mengungkapkan fondasi.

Demikian juga dengan kehidupan kita.

Masa sulit mungkin bukan sedang menghancurkan kehidupan kita.  Bisa jadi masa sulit sedang menunjukkan kepada kita apa yang selama ini menjadi dasar kehidupan kita.

Jika dasar kita adalah uang, kita akan hancur ketika uang hilang.

Jika dasar kita adalah jabatan, kita akan kehilangan arah ketika jabatan berakhir.

Jika dasar kita adalah penerimaan manusia, kita akan merasa tidak berharga ketika orang menolak kita.

Jika dasar kita adalah keberhasilan, kita akan kehilangan sukacita ketika mengalami kegagalan.

Tetapi jika dasar kita adalah Tuhan, kita memiliki sesuatu yang tidak mudah diruntuhkan oleh perubahan keadaan.

Perhatikan kata “tetap.”

Tetap berdiri bukan berarti tidak pernah diguncangkan.
Tetap berdiri berarti setelah guncangan itu datang, ia masih ada.

Mungkin hari ini kehidupan kita sedang diguncangkan.

Ada masalah dalam keluarga. Ada ketidakpastian mengenai pekerjaan.

Ada pergumulan dalam pelayanan. Ada keputusan besar yang harus diambil.

Ada sesuatu yang kita bangun bertahun-tahun tetapi sekarang terasa seperti sedang runtuh.

Sebab Tuhan tidak hanya ingin membuat hidup kita terlihat baik.  Tuhan ingin membangun kehidupan yang kokoh.

Dan kehidupan seperti itu tidak dibangun dalam satu hari.

Ia dibangun melalui keputusan-keputusan kecil setiap hari:

memilih kejujuran ketika berbohong lebih mudah,
memilih kesetiaan ketika menyerah terasa lebih nyaman,

memilih mengampuni ketika hati terluka,
memilih menaati firman ketika jalan lain terlihat lebih menguntungkan,

dan memilih percaya kepada Tuhan ketika kita belum melihat hasilnya.

Suatu hari, banyak hal yang sekarang terlihat besar mungkin tidak lagi penting.

Yang akan tersisa bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri di hadapan manusia, melainkan apakah kehidupan kita sungguh berdiri di hadapan Allah.

Karena itu, jangan hanya membangun kehidupan yang terlihat kuat.  Bangunlah kehidupan yang sungguh-sungguh kuat.

Jangan hanya mengejar rumah yang besar.  Bangunlah rumah kehidupan yang memiliki dasar yang benar.

Jangan hanya meninggalkan warisan berupa harta. Tinggalkanlah warisan berupa iman, karakter, kebenaran, dan kehidupan yang takut akan Tuhan.