
Amsal 24:8
Siapa selalu merencanakan kejahatan akan disebut penipu.
Banyak orang berpikir bahwa selama belum melakukan suatu kejahatan, berarti mereka masih bersih.
Selama kebohongan belum diucapkan, selama penipuan belum dijalankan, selama balas dendam belum dilakukan, mereka merasa belum berdosa.
Namun firman Tuhan hari ini memberikan perspektif yang jauh lebih dalam.
Allah tidak hanya memperhatikan apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang sedang kita bangun di dalam pikiran kita.
Sadari bahwa sebuah tindakan hampir selalu diawali oleh sebuah pemikiran.
Sebelum seseorang mengkhianati, ia terlebih dahulu memelihara rasa iri.
Sebelum seseorang menipu, ia lebih dulu menyusun strategi.
Sebelum seseorang menghancurkan orang lain dengan kata-kata, ia sudah lebih dahulu menyimpan kebencian di dalam hati.
Itulah sebabnya Salomo berkata bahwa orang yang merencanakan kejahatan sudah dikenal sebagai seorang penipu.
Dunia sering mengukur seseorang berdasarkan hasil akhirnya.
Selama belum tertangkap, ia dianggap baik-baik saja.
Tetapi standar Allah berbeda. Tuhan memandang hati.
IA mengetahui percakapan batin yang tidak pernah terdengar oleh siapa pun.
Tidak ada motivasi yang tersembunyi di hadapan-Nya.
Yesus juga mengajarkan prinsip yang sama.
Dalam Khotbah di Bukit, Ia berkata bahwa kebencian adalah akar pembunuhan dan hawa nafsu adalah akar perzinahan.
Dengan kata lain, Allah ingin membersihkan sumbernya, bukan hanya gejalanya.
Jika akar dosa tidak dicabut, cepat atau lambat buahnya akan muncul.
Karena itu, kehidupan rohani bukan sekadar belajar mengendalikan perilaku, melainkan membiarkan Roh Kudus memperbarui cara berpikir kita setiap hari.
Pikiran adalah medan pertempuran yang sangat menentukan.
Apa yang terus kita pikirkan akan membentuk keinginan kita.
Keinginan akan memengaruhi keputusan.
Keputusan akhirnya menjadi kebiasaan, dan
Kebiasaan membentuk karakter.
Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui pergumulan di dalam pikiran kita.
Mungkin ada keinginan untuk membalas, menyimpan kepahitan, mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar, atau diam-diam berharap orang lain mengalami kegagalan.
Semua itu mungkin belum pernah diwujudkan dalam tindakan, tetapi Tuhan mengajak kita untuk membereskannya sejak masih berupa benih.
Kabar baiknya adalah Allah tidak hanya menunjukkan dosa, tetapi juga menyediakan anugerah untuk mengubah hati.
Ketika kita datang kepada-Nya dengan kejujuran, Roh Kudus sanggup membersihkan motivasi kita dan menggantinya dengan pikiran Kristus.
Semakin kita memenuhi pikiran dengan firman Tuhan, semakin kecil ruang bagi rencana-rencana yang jahat untuk bertumbuh.
Jagalah pikiran Anda seperti seorang penjaga menjaga gerbang kota.
Jangan memberi tempat bagi kebencian, tipu daya, iri hati, atau keinginan untuk mencelakakan orang lain.
Mintalah Tuhan setiap hari membentuk hati yang murni, sehingga apa yang lahir dari pikiran kita adalah kasih, hikmat, dan damai sejahtera.
Sebab kehidupan yang benar bukan hanya terlihat dari apa yang dilakukan di depan orang banyak, tetapi juga dari apa yang dipikirkan ketika tidak seorang pun melihat.
Karakter yang kudus dibangun ketika kita menyerahkan pikiran kepada Tuhan sebelum pikiran itu berubah menjadi tindakan.
