Awal yang Benar

Awal yang Benar


TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.


Namun firman Tuhan mengajarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar memulai dengan baik.

Yang terpenting bukanlah bagaimana kita memulai menurut ukuran manusia, melainkan apakah kita memulai bersama hikmat Allah.

Amsal 8 membawa kita melihat sebuah gambaran yang luar biasa. Sebelum dunia ini ada, sebelum langit dibentangkan, sebelum lautan dibatasi, hikmat sudah hadir dalam setiap karya Allah.

Tidak ada satu pun ciptaan yang dibuat secara sembarangan.

Alam semesta yang begitu luas, hukum-hukum alam yang begitu teratur, hingga kehidupan manusia yang begitu kompleks, semuanya menunjukkan bahwa Allah bekerja dengan hikmat yang sempurna.

Hal ini menjadi pelajaran yang penting bagi kita.

Sering kali kita memulai banyak hal dengan tergesa-gesa.  

Kita mengambil keputusan karena emosi, mengikuti tren, atau sekadar mengejar kesempatan yang terlihat menguntungkan. Kita baru mencari Tuhan ketika masalah muncul.

Padahal prinsip Alkitab justru sebaliknya: carilah hikmat Tuhan terlebih dahulu, maka langkah-langkah berikutnya akan memiliki arah yang benar.

Sebaliknya, ada orang yang memiliki keterbatasan, tetapi karena ia terus mencari kehendak Tuhan dalam setiap keputusan, hidupnya menghasilkan buah yang indah.

Hikmat Allah bukan hanya memberi jawaban atas persoalan yang sulit.  

Hikmat juga mengajar kita menentukan prioritas, membedakan yang baik dari yang terbaik, mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus melangkah dan kapan harus menunggu.

Dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat bahwa hikmat Allah mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus.  Dialah hikmat Allah yang dinyatakan kepada manusia.

Ketika kita hidup dekat dengan Kristus, kita bukan hanya memperoleh pengetahuan, tetapi menerima cara pandang Allah terhadap hidup.

Semakin kita mengenal-Nya, semakin keputusan-keputusan kita dibentuk oleh karakter-Nya.

Mungkin kita sedang memulai pekerjaan baru, membangun keluarga, melayani Tuhan, menjalankan usaha, atau mengambil keputusan yang penting.

Amsal 8:22 mengingatkan kita bahwa Allah sendiri selalu bekerja berdasarkan hikmat. Jika Sang Pencipta tidak pernah bertindak tanpa hikmat, mengapa kita begitu sering merasa cukup dengan kebijaksanaan kita sendiri?

Marilah kita belajar untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga, “Apa yang menjadi hikmat Tuhan bagi langkah ini?”

Ketika hikmat Tuhan menjadi fondasi hidup kita, kita mungkin tidak selalu menempuh jalan yang paling mudah, tetapi kita akan berjalan di jalan yang paling benar.

Dan fondasi yang dibangun di atas hikmat Allah akan tetap kokoh sekalipun diterpa badai kehidupan.