Hindari Jalan yang Salah

Hindari Jalan yang Salah


Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanilah terus


Banyak orang berpikir mereka cukup kuat untuk bermain-main dengan pencobaan. Mereka merasa dapat mengendalikan diri, tahu kapan harus berhenti, dan yakin tidak akan jatuh.

Namun firman Tuhan justru mengajarkan kebijaksanaan yang berbeda. Hikmat tidak menyuruh kita menguji kekuatan diri, melainkan menghindari sumber bahaya sejak awal.

Perhatikan bagaimana ayat ini menggunakan bahasa yang sangat tegas.

Tuhan tidak berkata, “Berhati-hatilah ketika melewati jalan orang fasik.” Sebaliknya, Ia berkata, “Janganlah menempuh jalan itu.”

Bahkan setelah itu masih ditambahkan lagi, “Janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanilah terus.”

Pengulangan ini menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang pengaruh dosa dalam kehidupan manusia.

Sebuah kompromi yang tampaknya sepele.
Sebuah percakapan yang tidak sehat.
Sebuah tontonan yang perlahan mengubah cara berpikir.
Sebuah relasi yang seharusnya dibatasi tetapi dibiarkan berkembang.

Sedikit demi sedikit hati menjadi tumpul, suara hati melemah, dan akhirnya seseorang berjalan di jalan yang dahulu ia tahu harus dihindari.

Itulah sebabnya hikmat selalu bekerja lebih awal daripada penyesalan.  Orang bijaksana tidak bertanya, “Seberapa dekat saya boleh berjalan dengan dosa tanpa jatuh?”

Sebaliknya ia bertanya, “Bagaimana saya bisa menjauh sejauh mungkin dari segala sesuatu yang dapat menyeret saya menjauh dari Tuhan?”

Cara berpikir inilah yang menjaga hati tetap murni.

Namun kasih kepada Tuhan menghasilkan sikap yang berbeda. Ketika seseorang sungguh mengasihi Tuhan, ia tidak mencari batas minimum ketaatan.

Ia justru mencari cara untuk semakin menyenangkan hati Tuhan.

Ia rela meninggalkan tempat, kebiasaan, bahkan pergaulan tertentu bila semuanya itu berpotensi menjauhkan dirinya dari hidup yang kudus.

Menolak ajakan tertentu.
Menghindari lingkungan tertentu.
Membatasi akses terhadap hal-hal yang merusak.

Tidak ikut dalam pembicaraan yang penuh gosip.
Memilih diam daripada membalas dengan kemarahan.

Dunia mungkin menganggap itu kelemahan, tetapi Alkitab menyebutnya hikmat.

Orang yang takut akan Tuhan lebih memilih kehilangan kesempatan sementara daripada kehilangan damai sejahtera dan persekutuan dengan Allah.

Artinya kehidupan orang percaya tidak boleh berhenti hanya pada menjauhi dosa. Kita dipanggil untuk terus berjalan di jalan yang benar.

Kekosongan rohani yang tidak diisi dengan firman Tuhan, doa, dan persekutuan akan mudah diisi kembali oleh hal-hal yang salah.

Karena itu menjauh dari dosa harus selalu disertai dengan mendekat kepada Tuhan.

Mungkin bukan dosa yang besar, tetapi sebuah arah yang salah.

Ingatlah bahwa setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah. Demikian pula kejatuhan.

Sebaliknya, setiap kehidupan yang berkenan kepada Tuhan juga dimulai dari satu keputusan sederhana untuk menaati-Nya hari ini.

Kiranya kita jangan menunggu sampai kita terluka baru belajar menghindari jalan yang salah.

Hikmat sejati adalah berbalik sebelum terlambat, menjauh sebelum terjerat, dan terus melangkah mengikuti jalan Tuhan yang membawa kepada kehidupan.