
Amsal 8:17
Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menginginkan jawaban dari Tuhan, tetapi tidak banyak yang benar-benar mencari Tuhan.
Kita sering berharap mendapatkan petunjuk yang jelas, jalan keluar yang cepat, atau keputusan yang tepat, namun terkadang kita lebih sibuk mencari solusi daripada mencari Pribadi yang memberi solusi.
Amsal 8:17 mengingatkan bahwa hikmat Tuhan ditemukan oleh mereka yang tekun mencarinya.
Kata “tekun” menjadi bagian yang penting. Pencarian yang dimaksud bukanlah usaha sesaat ketika sedang mengalami masalah, melainkan sikap hidup yang terus-menerus mendekat kepada Tuhan.
Bayangkan seseorang yang kehilangan barang berharga. Ia tidak akan mencari hanya selama satu menit lalu menyerah.
Ia akan memeriksa setiap sudut ruangan, membuka setiap laci, dan terus mencari sampai menemukan barang itu.
Semakin berharga sesuatu di matanya, semakin besar usaha yang akan ia lakukan untuk menemukannya.
Demikian juga dengan hikmat Tuhan. Jika kita benar-benar percaya bahwa hikmat Tuhan lebih berharga daripada pendapat manusia, lebih dapat dipercaya daripada perasaan kita sendiri, dan lebih aman daripada logika dunia, maka kita akan mencarinya dengan sungguh-sungguh.
Sering kali Tuhan memang tidak memberikan jawaban instan karena Ia sedang membentuk hubungan yang lebih dalam dengan kita.
Kadang-kadang yang Tuhan inginkan bukan sekadar memberikan petunjuk, tetapi mengajar kita untuk berjalan dekat dengan-Nya.
Dalam proses mencari itulah karakter dibentuk, iman dikuatkan, dan hati diajar untuk semakin bergantung kepada Tuhan.
Walau ada orang yang hanya mencari Tuhan ketika keadaan sulit. Setelah masalah selesai, pencariannya berhenti.
Namun ada juga orang yang tetap mencari Tuhan ketika hidup sedang baik-baik saja.
Mereka membaca firman bukan karena panik.
Mereka berdoa bukan karena terdesak.
Mereka datang kepada Tuhan karena mereka mengasihi-Nya.
Orang seperti inilah yang digambarkan dalam ayat ini.
Menariknya, ayat ini dimulai dengan kalimat, “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku.”
Ini menunjukkan adanya relasi. Tuhan tidak sedang menawarkan sekadar informasi atau pengetahuan. Ia mengundang kita masuk ke dalam hubungan yang penuh kasih.
Karena memang hikmat sejati lahir dari kedekatan dengan Tuhan. Semakin dekat kita kepada-Nya, semakin jelas kita memahami jalan yang harus ditempuh.
Terkadang kita berpikir bahwa Tuhan jauh karena doa belum dijawab atau keadaan belum berubah. Namun sering kali persoalannya bukan Tuhan yang menjauh, melainkan kita yang berhenti mencari.
Kita berhenti membuka firman.
Kita berhenti berdoa dengan sungguh-sungguh.
Kita berhenti menyediakan waktu untuk mendengar suara-Nya.
Padahal janji firman tetap sama: mereka yang tekun mencari akan mendapatkan.
Mendapatkan Tuhan bukan berarti kita akan langsung memperoleh semua yang kita inginkan.
Namun kita akan menemukan apa yang paling kita butuhkan: hikmat untuk mengambil keputusan, damai sejahtera di tengah ketidakpastian, kekuatan untuk bertahan, dan keyakinan bahwa Tuhan memimpin langkah kita.
Hari ini, Tuhan kembali mengundang kita untuk menjadi pencari.
Bukan pencari sensasi rohani, bukan pencari keuntungan pribadi, tetapi pencari hadirat dan hikmat Tuhan.
Jangan pernah puas dengan hubungan yang dangkal.
Jangan berhenti setelah doa pertama.
Jangan menyerah setelah jawaban belum datang.
Tetaplah mencari Tuhan melalui firman, doa, penyembahan, dan ketaatan setiap hari.
Sebab Tuhan tidak pernah mengecewakan mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Mereka yang terus datang kepada-Nya akan menemukan bahwa selama ini Tuhan sebenarnya tidak jauh. Ia sudah dekat, menunggu hati yang rindu untuk mengenal-Nya lebih dalam.
Mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan tidak akan pulang dengan tangan kosong.
