
Amsal 4:16-17
Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berpikir bahwa bahaya terbesar dari dosa adalah hukuman atau akibat yang ditimbulkannya.
Padahal ada sesuatu yang sering kali lebih berbahaya daripada akibat dosa itu sendiri, yaitu ketika hati mulai menikmati dosa tersebut.
Salomo menggambarkan orang fasik sebagai orang yang tidak bisa tidur sebelum berbuat jahat. Ini bukan sekadar berbicara tentang kurang tidur secara harfiah.
Gambaran ini menunjukkan adanya dorongan batin yang kuat.
Pikiran mereka terus mencari kesempatan untuk melakukan yang salah.
Mereka tidak merasa puas sebelum berhasil menjalankan keinginan jahat yang ada dalam hati mereka.
Lebih jauh lagi, mereka tidak hanya melakukan kejahatan bagi diri sendiri. Mereka juga merasa puas ketika berhasil membuat orang lain tersandung.
Inilah salah satu sifat dosa yang paling merusak.
Dosa jarang berhenti pada diri pelakunya.
Dosa cenderung menyebar dan menyeret orang lain masuk ke dalam pengaruhnya.
Kita dapat melihat prinsip ini dalam banyak aspek kehidupan.
Seseorang yang terbiasa berbohong akan mulai menganggap kebohongan sebagai hal biasa.
Orang yang terbiasa bergosip akan mencari bahan gosip baru setiap hari.
Orang yang menyimpan kepahitan sering kali ingin orang lain ikut membenci orang yang sama.
Ketika dosa sudah menjadi kebiasaan, hati mulai kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan.
Salomo menggunakan gambaran yang sangat kuat ketika berkata bahwa mereka makan roti kefasikan dan minum anggur kelaliman. Roti dan anggur adalah simbol kebutuhan sehari-hari.
Dengan kata lain, kejahatan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka seperti makanan dan minuman.
Apa yang seharusnya membuat hati mereka gelisah justru menjadi sesuatu yang mereka nikmati.
Renungan ini mengajak kita untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apa yang sedang memenuhi hati kita setiap hari?
Apa yang menjadi konsumsi rohani kita?
Pikiran apa yang terus kita pelihara?
Kebiasaan apa yang sedang kita bangun?
Karakter tidak dibentuk oleh keputusan besar yang terjadi sekali saja. Karakter dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Jika kita terus memberi makan amarah, iri hati, kesombongan, atau ketidakjujuran, semua itu akan bertumbuh semakin kuat.
Sebaliknya, jika kita memberi makan hati dengan firman Tuhan, doa, penyembahan, dan ketaatan, maka kehidupan rohani kita juga akan semakin kuat.
Kabar baiknya, Tuhan sanggup mengubah hati yang telah lama terikat oleh kebiasaan yang salah.
Kristus tidak hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memberikan kuasa untuk hidup baru.
Roh Kudus bekerja di dalam kita untuk membentuk keinginan yang baru, sehingga kita mulai mencintai apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Tuhan benci.
Karena itu, jangan menunggu sampai dosa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita.
Ketika Roh Kudus menunjukkan sesuatu yang salah, segeralah bertobat.
Ketika Tuhan menegur melalui firman-Nya, jangan mengeraskan hati.
Peliharalah kepekaan rohani setiap hari.
Apa yang kita nikmati hari ini akan membentuk siapa kita esok hari.
Karena itu, biarlah hati kita menemukan sukacita bukan dalam dosa, tetapi dalam hidup yang berkenan kepada Tuhan.
Dosa yang terus dinikmati akan menjadi kebiasaan, tetapi ketaatan yang terus dipelihara akan membentuk karakter yang berkenan kepada Tuhan.
