Amsal 17:1

Yang Lebih Berharga

Amsal 17:1

Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada rumah yang penuh dengan daging sembelihan disertai dengan perbantahan.


Kita hidup di dunia yang mengejar “lebih banyak”— lebih banyak harta, makanan, kemewahan, dan kenyamanan.  Namun, Amsal 17:1 mengingatkan bahwa kadang lebih sedikit justru lebih baik. Hidup sederhana dengan hati yang tenang lebih bernilai daripada hidup berlimpah tapi penuh keributan.

Banyak keluarga memiliki segalanya—rumah besar, kendaraan, fasilitas lengkap—namun kehilangan kedamaian.  Suara tawa tergantikan oleh pertengkaran, kasih berubah menjadi dingin, dan rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi medan perang.

Sebaliknya, ada keluarga sederhana, mungkin hanya makan seadanya, tetapi penuh canda, saling mengasihi, dan hidup damai.  Di situlah sukacita sejati hadir, bukan karena apa yang dimiliki, tetapi karena siapa yang mereka miliki.  

Renungan ini menantang kita untuk menilai ulang prioritas: apakah kita mengejar kelimpahan, atau ketenangan?  Mungkin Tuhan ingin kita menemukan rasa cukup di tengah kesederhanaan, dan belajar bahwa damai adalah anugerah, bukan hasil dari kelimpahan materi.

Mari kita berdoa agar rumah dan hati kita bukan hanya penuh makanan, tetapi juga penuh kasih dan ketenteraman. Sebab lebih baik sekerat roti bersama damai, daripada pesta tanpa kasih.



Amsal 15:30

Senyummu Menyembuhkan

Amsal 15:30

Mata yang bersinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tula


Ada sesuatu yang menakjubkan tentang sukacita yang tulus — ia tidak bisa disembunyikan.  Wajah yang bersinar bukan hasil make-up atau pencahayaan, melainkan pancaran hati yang penuh damai.  Ketika seseorang hidup dengan hati yang benar di hadapan Tuhan, matanya memancarkan kehangatan yang menenangkan hati orang lain.

Padahal, di balik hal-hal kecil itu, tersimpan kuasa untuk mengangkat hati yang sedang tertekan.  Dunia yang keras dan dingin membutuhkan lebih banyak “mata yang bersinar” — orang-orang yang memancarkan kasih dan pengharapan.

Selain itu, Amsal ini juga berbicara tentang “kabar baik” yang menyegarkan tulang.  Kabar baik bisa berupa berita tentang kesembuhan, pertolongan, atau bahkan janji Tuhan yang diingatkan kembali.  Firman Tuhan sendiri adalah kabar baik yang memberi kekuatan di saat kita letih.  Setiap kali kita mendengarnya, tulang kita — lambang dari semangat terdalam — diperbarui.

Setiap kali kita berbicara dengan kasih, menguatkan, atau menghibur seseorang, kita sedang menjadi saluran “kabar baik” yang menyegarkan jiwa mereka.

Mungkin hari ini, seseorang di sekitar kita sedang membutuhkan tatapan yang bersinar — bukan dari mata yang menilai, tetapi dari hati yang mengasihi.  Jadilah wajah yang bersinar itu, dan biarlah kabar baik dari hidupmu menghidupkan orang lain.