Berjalan Aman dengan Integritas


Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.


Namun sesungguhnya, sebagai orang percaya kita tahu bahwa selalu ada Pribadi yang melihat.

Dunia sering mengajarkan bahwa hasil lebih penting daripada cara mencapainya. Selama tujuan tercapai, sedikit kebohongan dianggap biasa.

Sedikit manipulasi dianggap strategi.
Sedikit kepura-puraan dianggap bagian dari kehidupan sosial.

Namun hikmat Tuhan justru mengajarkan hal yang sebaliknya.

Amsal 10:9 mengajarkan bahwa orang yang hidup dengan integritas dapat berjalan dengan aman.  Aman di sini bukan berarti bebas dari penderitaan atau tantangan.

Orang benar tetap mengalami masalah, difitnah, bahkan dikecewakan.

Namun ada satu hal yang tidak mereka alami: ketakutan karena hidup dalam kebohongan.

Orang yang jujur tidak perlu mengingat cerita palsu yang pernah ia buat. Ia tidak perlu takut suatu hari rahasianya terbongkar.

Ia tidak perlu terus-menerus menjaga topeng yang dikenakannya.

Sebaliknya, orang yang hidup dengan tipu daya sebenarnya sedang memikul beban yang berat.

Semakin banyak kebohongan dibuat, semakin banyak kebohongan lain yang harus diciptakan untuk menutupinya.

Akhirnya hidup menjadi melelahkan. Hati menjadi gelisah. Pikiran dipenuhi rasa takut kalau suatu hari semuanya terbongkar.

Firman Tuhan memberikan peringatan yang sederhana tetapi tegas: “siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.”

Waktunya mungkin berbeda-beda. Ada yang cepat terbongkar, ada yang bertahun-tahun kemudian.

Di era media sosial, godaan untuk hidup dengan topeng semakin besar.

Kita bisa menampilkan kehidupan yang tampak rohani, bahagia, atau sukses, sementara kenyataannya sangat berbeda.

Kita bisa terlihat melayani Tuhan dengan setia, tetapi menyimpan kepahitan yang tidak pernah diselesaikan.

Kita bisa terlihat murah hati di depan umum, tetapi berlaku tidak jujur dalam pekerjaan.

Kita bisa tampak saleh di gereja, tetapi berbeda ketika berada di rumah.

Integritas bukan berarti kita sempurna. Integritas berarti ketika kita jatuh, kita mengakuinya.

Ketika kita berdosa, kita bertobat.
Ketika kita salah, kita bersedia meminta maaf.

Orang yang berintegritas bukan orang yang tidak pernah gagal, melainkan orang yang tidak hidup dalam kepura-puraan.

Yesus sendiri adalah teladan integritas yang sempurna. Seluruh hidup-Nya selaras dengan perkataan-Nya.

Apa yang Dia ajarkan, itulah yang Dia hidupi.  Tidak ada kepalsuan dalam diri-Nya.  Karena itulah Dia dapat berkata bahwa Dialah terang dunia.

Hari ini, Tuhan mungkin sedang mengajak kita memeriksa diri.

Adakah area kehidupan yang selama ini kita sembunyikan?
Adakah kompromi kecil yang kita anggap tidak masalah?
Adakah kebiasaan yang membuat hati kita kehilangan damai?

Integritas memang kadang membuat kita harus membayar harga, tetapi harga itu jauh lebih kecil daripada akibat dari sebuah kepalsuan.

Marilah kita memilih berjalan dengan hati yang bersih setiap hari. Bukan untuk memperoleh pujian manusia, tetapi karena kita mengasihi Tuhan.

Ketika hidup kita terbuka di hadapan-Nya, kita dapat melangkah dengan tenang, tanpa rasa takut, karena Dia adalah pelindung bagi setiap orang yang hidup dalam integritas.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *