
Amsal 26:6
Siapa mengirim pesan dengan perantaraan orang bebal mematahkan kakinya sendiri dan meminum kecelakaan.
Di dalam kehidupan, kita tidak mungkin melakukan segala sesuatu sendirian. Kita membutuhkan orang lain.
Kita bekerja sama, berkolaborasi, dan mendelegasikan tugas kepada orang-orang di sekitar kita.
Namun, Amsal 26:6 mengingatkan bahwa ada satu hal yang tidak boleh dianggap sepele, yaitu kepada siapa kita memberikan kepercayaan.
Salomo memberikan gambaran yang sangat ekstrem. Ia mengatakan bahwa mempercayakan pesan kepada orang bebal sama seperti memotong kaki sendiri.
Bayangkan seseorang yang sengaja melukai dirinya sendiri, lalu berharap dapat berjalan dengan baik. Itu adalah tindakan yang tidak masuk akal.
Begitu pula ketika seseorang mempercayakan sesuatu yang penting kepada orang yang tidak bertanggung jawab.
Terkadang masalah besar yang kita alami bukan karena pekerjaan itu terlalu sulit, tetapi karena kita salah memilih orang.
Ada orang yang pandai berbicara, tetapi tidak dapat diandalkan.
Ada orang yang terlihat antusias, tetapi tidak konsisten.
Ada orang yang menerima tanggung jawab, tetapi tidak pernah menyelesaikannya.
Ada juga orang yang mudah membocorkan rahasia, mengubah pesan, atau mengabaikan instruksi yang diberikan.
Akibatnya, masalah yang sebenarnya sederhana menjadi rumit.
Ayat ini bukan mengajarkan kita untuk curiga kepada semua orang, melainkan mengajarkan kita untuk memiliki hikmat dalam memberikan kepercayaan.
Kepercayaan adalah sesuatu yang berharga.
Kepercayaan harus dibangun melalui karakter, integritas, dan kesetiaan dalam hal-hal kecil.
Di zaman sekarang, prinsip ini semakin penting.
Dalam keluarga,
orang tua perlu mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anak secara bertahap.
Dalam pekerjaan,
seorang pemimpin perlu memilih orang yang dapat dipercaya, bukan hanya yang terlihat berbakat.
Dalam pelayanan gereja,
jangan hanya melihat kemampuan seseorang, tetapi lihat juga karakter dan kedewasaan rohaninya.
Kemampuan tanpa karakter dapat menjadi sumber masalah. Banyak orang memiliki talenta, tetapi tidak semua memiliki integritas.
Bahkan dalam kehidupan pribadi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya adalah orang yang layak dipercaya?
Sering kali kita membaca ayat ini dan langsung memikirkan orang lain. Padahal renungan ini juga mengajak kita bercermin.
Jika orang lain menitipkan tugas kepada kita, apakah kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh?
Jika orang lain mempercayakan rahasia kepada kita, apakah kita menjaganya?
Jika kita diberi tanggung jawab, apakah kita menyelesaikannya tepat waktu?
Tuhan mencari orang-orang yang dapat dipercaya.
Hari ini, mintalah Tuhan menolong kita untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya sekaligus memiliki kebijaksanaan dalam memilih orang yang kita percayai.
Sebab satu keputusan yang bijaksana dapat membawa banyak kebaikan, tetapi satu keputusan yang salah dapat mendatangkan banyak kerugian.
Jadilah orang yang setia, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab, karena orang seperti itulah yang Tuhan pakai untuk membawa berkat bagi banyak orang.
Sebab satu keputusan yang bijaksana dapat membawa banyak kebaikan, tetapi satu keputusan salah mempercayai orang dapat mendatangkan banyak kerugian.