
Amsal 21:13
Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya
Kita hidup di zaman yang sangat sibuk. Ironisnya, semakin maju teknologi, semakin mudah pula seseorang kehilangan kepekaan terhadap sesamanya.
Kita bisa mengetahui kabar orang lain hanya dalam hitungan detik, tetapi belum tentu kita memiliki kepedulian untuk benar-benar memperhatikan mereka.
Setiap hari, kita mungkin bertemu orang yang sedang berjuang dalam diam.
Ada yang sedang mengalami masalah ekonomi, pergumulan keluarga, tekanan pekerjaan, kesepian, sakit penyakit, atau pergumulan batin yang tidak terlihat oleh mata.
Namun sering kali kita terbiasa berkata, “Itu bukan urusanku.”
Amsal 21:13 mengingatkan bahwa Tuhan memperhatikan respons hati kita terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Ayat ini tidak sedang mengajarkan bahwa Tuhan tidak akan pernah mendengar doa orang berdosa, melainkan sedang menegaskan sebuah prinsip rohani:
orang yang terus-menerus hidup tanpa belas kasihan sedang membentuk hati yang keras, dan hati yang keras akan menjauhkan dirinya dari pengalaman menikmati belas kasihan Tuhan.
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani adalah ketika seseorang menjadi kebal terhadap penderitaan orang lain.
Awalnya mungkin hanya sekali mengabaikan. Lama-kelamaan, itu menjadi kebiasaan.
Kita melihat orang membutuhkan bantuan, tetapi merasa tidak perlu terlibat.
Kita mendengar orang sedang bergumul, tetapi memilih diam.
Kita tahu ada orang yang membutuhkan dukungan, tetapi berpikir bahwa pasti ada orang lain yang akan menolongnya.
Padahal, bisa jadi Tuhan sedang memakai kita untuk menjadi jawaban atas doa seseorang.
Belas kasihan tidak selalu identik dengan memberi uang. Kadang-kadang, yang paling dibutuhkan seseorang adalah telinga yang mau mendengar.
Ada orang yang hanya membutuhkan seseorang yang mau duduk bersamanya.
Ada yang membutuhkan pesan singkat yang menguatkan.
Ada yang membutuhkan doa.
Ada yang membutuhkan waktu.
Ada pula yang membutuhkan kehadiran kita.
Hal-hal sederhana yang kita anggap kecil bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain.
Yesus sendiri memberikan teladan yang luar biasa. Di tengah kesibukan-Nya melayani banyak orang, Ia tidak pernah kehilangan kepekaan.
Ia berhenti untuk mendengar orang buta yang berseru kepada-Nya.
Ia memperhatikan orang sakit.
Ia menghibur orang yang berdukacita.
Ia melihat kebutuhan yang sering kali diabaikan oleh orang banyak. Kasih-Nya selalu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil untuk memiliki hati yang serupa.
Terkadang Tuhan tidak mengukur seberapa besar pelayanan yang kita lakukan, tetapi seberapa besar kasih yang ada di baliknya.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, orang percaya dipanggil untuk menjadi pribadi yang berbeda. Kita dipanggil untuk hadir bagi sesama.
Menjadi pendengar yang baik.
Menjadi penolong yang tulus.
Menjadi pribadi yang peka terhadap kebutuhan orang lain.
Hari ini, cobalah melihat lebih dekat orang-orang di sekitar kita.
Apakah ada anggota keluarga yang membutuhkan perhatian kita?
Apakah ada teman yang sedang bergumul tetapi tidak berani bercerita?
Apakah ada rekan kerja yang sedang memikul beban hidup?
Apakah ada orang yang selama ini kita abaikan?
Jangan menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik. Mulailah dari hal-hal kecil.
Karena sering kali, kasih Tuhan dinyatakan melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Hari ini, mari meminta kepada Tuhan bukan hanya berkat yang lebih besar, tetapi juga hati yang lebih peka.
Sebab dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan lebih banyak orang yang penuh belas kasihan.
Dan mungkin, Tuhan sedang memanggil kita untuk menjadi salah satunya.
Orang yang terbiasa mendengar jeritan sesamanya akan lebih mudah merasakan kelembutan hati Tuhan dalam hidupnya.