
Amsal 29:7
Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya
Dunia modern sering membuat manusia semakin individualis.
Kita sibuk mengejar target, membangun kenyamanan pribadi, dan menjaga kehidupan sendiri sampai lupa bahwa di sekitar kita ada orang-orang yang sedang berjuang diam-diam.
Ada yang tersenyum tetapi sebenarnya lelah.
Ada yang tetap bekerja keras sambil menanggung luka.
Ada yang tampak biasa saja tetapi sebenarnya sedang kehilangan harapan.
Seringkali dunia mengajarkan kita untuk fokus pada diri sendiri.
Selama hidup kita aman, nyaman, dan berkecukupan, kita merasa semuanya baik-baik saja.
Tanpa sadar, hati manusia bisa menjadi keras. Kita mulai terbiasa melihat penderitaan tanpa lagi merasa terganggu.
Kita melihat orang kesusahan, tetapi menganggap itu bukan urusan kita.
Kita mendengar tangisan orang lain, tetapi memilih diam karena merasa tidak berkewajiban membantu.
Namun firman Tuhan menunjukkan ciri yang berbeda dari orang benar. Orang benar “mengetahui hak orang lemah.”
Ini bukan sekadar tahu secara intelektual.
Ini berbicara tentang hati yang peduli.
Hati yang masih bisa merasakan kesedihan orang lain.
Hati yang tidak nyaman ketika melihat ketidakadilan terjadi.
Yesus sendiri menunjukkan kehidupan seperti ini.
Berkali-kali Injil mencatat bagaimana Ia tergerak oleh belas kasihan ketika melihat orang sakit, lapar, tersingkir, dan berdosa.
IA tidak menutup mata terhadap kebutuhan manusia.
Bahkan ketika banyak orang menghindari mereka yang dianggap hina, Yesus justru mendekat.
Kadang kita berpikir kepedulian harus selalu berbentuk sesuatu yang besar.
Padahal seringkali Tuhan hanya meminta hati yang mau melihat dan bertindak sederhana.
Sebuah perhatian kecil.
Sebuah doa.
Sebuah bantuan yang tulus.
Sebuah telinga yang mau mendengar.
Sebuah penghiburan kepada orang yang sedang lemah.
Hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi jawaban doa bagi seseorang.
Yang berbahaya adalah ketika hati menjadi mati rasa.
Ketika kita mulai terbiasa berkata, “Itu bukan urusanku.”
Ketika kita bisa melihat kesusahan tanpa lagi memiliki belas kasihan.
Amsal menyebut keadaan seperti ini sebagai ciri orang fasik — bukan karena mereka selalu melakukan kejahatan besar, tetapi karena hati mereka tidak lagi memahami dan peduli pada sesama.
Karena itu, mintalah kepada Tuhan hati yang lembut.
Hati yang tidak cepat menghakimi.
Hati yang tidak cuek terhadap penderitaan orang lain.
Hati yang peka terhadap kebutuhan sesama.
Sebab semakin seseorang dekat dengan Tuhan, seharusnya semakin ia memiliki belas kasihan.
Menjadi orang benar bukan berarti hidup tanpa salah, tetapi hidup dengan hati yang terus dibentuk oleh karakter Allah.
Dan salah satu karakter Tuhan yang paling nyata adalah kasih dan kepedulian-Nya terhadap mereka yang lemah.
Ketika kita belajar peduli kepada sesama, sebenarnya kita sedang memantulkan hati Bapa di dunia ini.
MAKA:
Jangan menunggu menjadi kaya untuk peduli.
Jangan menunggu punya banyak waktu untuk memperhatikan orang lain.
Mulailah dari hal sederhana hari ini.
Sebab seringkali dunia berubah bukan karena tindakan besar, tetapi karena masih ada orang-orang yang hatinya belum menjadi dingin.
Hati yang dekat dengan Tuhan tidak akan mudah menutup mata terhadap penderitaan sesama.