
Amsal 24:6
Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.
Hidup ini lebih mirip sebuah peperangan daripada sekadar perjalanan santai.
Dalam peperangan, tidak ada prajurit yang menang hanya karena nekat maju.
Mereka membutuhkan strategi.
Mereka membutuhkan arahan.
Mereka membutuhkan koordinasi.
Demikian juga dalam hidup kita.
Sering kali kita ingin bergerak cepat dalam hidup. Kita merasa tahu apa yang harus dilakukan. Kita merasa cukup kuat, cukup pintar, atau cukup berpengalaman untuk mengambil keputusan sendiri.
Tetapi tanpa kita sadari, justru di situlah banyak orang jatuh.
Amsal 24:6 mengingatkan bahwa kehidupan ini bukan sekadar soal keberanian melangkah, tetapi soal bagaimana kita melangkah dengan benar karena mendengarkan nasihat.
Ada banyak orang yang gagal bukan karena kurang usaha, tetapi karena kurang hikmat.
Mereka bertindak terlalu cepat tanpa pertimbangan.
Mereka berjalan sendiri tanpa mau mendengar suara orang lain.
Ada kalanya kita dihadapkan pada keputusan besar. Mungkin tentang pekerjaan, pelayanan, keluarga, atau masa depan. Dalam momen seperti itu, suara hati kita sering kali berkata, “Aku bisa sendiri.”
Tetapi firman Tuhan justru mengajak kita untuk merendahkan diri dan berkata, “Aku butuh nasihat.”
Banyaknya penasihat BUKAN berarti kita harus mengikuti semua suara.
Tetapi ini berbicara tentang membuka hati untuk mendengar, menimbang, dan mencari kehendak Tuhan melalui orang-orang yang bijaksana di sekitar kita.
Tuhan sering kali berbicara bukan hanya melalui firman-Nya, tetapi juga melalui komunitas yang sehat.
Ada kekuatan dalam kerendahan hati. Orang yang mau mendengar nasihat bukanlah orang yang lemah, tetapi orang yang cukup kuat untuk mengakui bahwa ia tidak tahu segalanya.
Justru di situlah letak hikmat sejati.
Namun sebaliknya, orang yang menolak nasihat sering kali berjalan menuju kehancuran tanpa menyadarinya.
Ia merasa benar, tetapi tidak sadar bahwa ia sedang tersesat.
Ia merasa kuat, tetapi sebenarnya rapuh.
Renungan ini mengajak kita untuk mengevaluasi diri.
Apakah kita termasuk orang yang terbuka terhadap nasihat?
Ataukah kita lebih sering menutup telinga karena merasa sudah tahu segalanya?
Tuhan tidak pernah merancang kita untuk berjalan sendiri. Ia menempatkan kita dalam komunitas, dalam keluarga, dalam gereja, supaya kita bisa saling menajamkan.
Dalam banyak nasihat, ada perlindungan. Dalam banyak hikmat, ada arah yang benar.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita untuk berhenti sejenak sebelum melangkah.
Untuk bertanya.
Untuk mendengar.
Untuk mencari hikmat, bukan sekadar mengikuti perasaan.
Karena pada akhirnya, kemenangan hidup bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita bergerak, tetapi oleh seberapa bijak kita melangkah.
Kemenangan hidup bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita bergerak, tetapi oleh seberapa bijak kita melangkah.