
Amsal 8:13
Jikalau engkau bijak, kebijaksanaanmu itu bagimu sendiri, dan jikalau engkau seorang pencemooh, engkau sendirilah yang menanggungnya.
Ada satu kenyataan penting dalam kehidupan rohani yang sering kali sulit diterima: setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri di hadapan Tuhan.
Nasihat bisa diberikan, teguran bisa disampaikan, dan kebenaran bisa diajarkan. Tetapi pada akhirnya, setiap oranglah yang menentukan apakah ia akan menerima hikmat atau menolaknya.
Amsal 9:12 menyingkapkan prinsip sederhana namun sangat dalam. Jika seseorang memilih untuk hidup bijak, manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri.
Hikmat akan menjaga hidupnya, menuntunnya dalam keputusan, melindunginya dari banyak kesalahan, dan membawa damai dalam hatinya.
Orang yang belajar hikmat mungkin tidak selalu langsung melihat hasilnya. Namun seiring waktu, kehidupan yang dibangun di atas hikmat Tuhan menghasilkan buah yang nyata: karakter yang matang, keputusan yang lebih tepat, dan relasi yang lebih sehat.
Sebaliknya, Alkitab menggambarkan tipe orang lain: pencemooh.
Ini bukan sekadar orang yang tidak tahu kebenaran, tetapi orang yang menolak kebenaran dengan sikap meremehkan. Ia menertawakan nasihat, mengabaikan teguran, dan merasa dirinya selalu benar.
Masalah terbesar dari sikap mencemooh bukan hanya kesalahan yang dibuat, tetapi penolakan untuk belajar. Selama seseorang masih mau diajar, masih ada harapan untuk bertumbuh.
Tetapi ketika seseorang mulai mencemooh hikmat, hatinya menjadi tertutup terhadap perubahan.
Karena itu Amsal berkata bahwa pencemooh “menanggungnya sendiri.” Akibat dari kebodohan tidak bisa dipindahkan kepada orang lain.
Kita mungkin ingin menyalahkan keadaan, orang lain, atau masa lalu kita. Namun hikmat Alkitab mengingatkan bahwa pada akhirnya pilihan hidup kita membawa konsekuensi yang harus kita tanggung sendiri.
Ini bukanlah pernyataan yang dimaksudkan untuk menghukum, tetapi untuk menyadarkan. Tuhan memberi manusia kehormatan besar: kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Dan bersama kebebasan itu datang tanggung jawab.
Kabar baiknya, hikmat selalu terbuka bagi siapa saja yang mau datang.
Tuhan tidak menuntut kita menjadi sempurna terlebih dahulu. Ia hanya meminta hati yang mau belajar, hati yang rendah, dan hati yang bersedia diarahkan.
Setiap hari sebenarnya adalah kesempatan baru untuk memilih hikmat. Dalam cara kita berbicara, dalam keputusan yang kita buat, dalam bagaimana kita merespons nasihat, bahkan dalam bagaimana kita menerima teguran.
Ketika kita memilih hikmat Tuhan, kita sedang membangun kehidupan yang kokoh dari dalam. Tidak semua orang mungkin melihat prosesnya, tetapi buahnya akan dirasakan dalam hidup kita sendiri.
Dan pada akhirnya, seperti yang diingatkan oleh Amsal 9:12, hikmat yang kita pilih akan menjadi berkat bagi diri kita sendiri.
Tetapi jika kita menolak dan mencemoohnya, akibatnya juga akan kembali kepada kita.
Karena itu, setiap hari kita dihadapkan pada pilihan yang sama: apakah kita akan membuka hati terhadap hikmat Tuhan, atau menutup diri terhadapnya.
Hikmat yang kita pilih akan memberkati hidup kita sendiri, tetapi kebodohan yang kita pelihara juga akan kembali kepada kita.