Bersandar Pada Yang Tak Terlihat


Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.


Namun di titik itulah firman ini datang dengan lembut tetapi tegas: Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu.

Seringkali kita tidak sadar bahwa kita sedang lebih mempercayai pengertian sendiri daripada Tuhan.

Kita berdoa, tetapi keputusan sudah dibuat sebelumnya. Kita bertanya kepada Tuhan, tetapi sebenarnya hanya ingin konfirmasi atas apa yang sudah kita mau. Kita menyebutnya iman, padahal yang kita lakukan adalah meminta Tuhan menyetujui rencana kita.

Percaya dengan segenap hati berarti menyerahkan hak untuk menentukan hasil. Itu berarti kita tetap tenang ketika jalan Tuhan berbeda dari ekspektasi kita. Itu berarti kita tetap setia walaupun belum melihat jawaban.

Sebagai orang tua, pemimpin, atau pelayan Tuhan, godaan terbesar sering kali bukan ketidakpercayaan total, melainkan kepercayaan setengah hati. Kita masih percaya Tuhan ada, tetapi dalam praktiknya kita lebih mengandalkan strategi, koneksi, pengalaman, atau perhitungan pribadi.

Kita lebih nyaman bersandar pada apa yang bisa kita kontrol.

Padahal bersandar itu seperti meletakkan berat badan pada sesuatu. Jika kita bersandar pada kursi yang rapuh, kita akan jatuh. Jika kita bersandar pada pengertian sendiri, cepat atau lambat kita akan menemukan batasnya.

Ada hal-hal dalam hidup yang terlalu besar untuk dipahami sepenuhnya oleh akal manusia. Ada jalan yang tampaknya baik, tetapi ujungnya tidak kita ketahui.

Justru iman yang dewasa tetap merencanakan, tetapi hati tetap terbuka untuk koreksi Tuhan. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi kita tahu hasil akhir bukan di tangan kita. Kita melangkah dengan tanggung jawab, tetapi tidak dengan kesombongan.

Seringkali Tuhan mengizinkan situasi yang membuat pengertian kita mentok. Usaha sudah maksimal, tetapi hasil tidak sesuai. Doa sudah dipanjatkan, tetapi jawaban terasa lambat.

Di situ kita belajar bahwa iman bukan tentang memahami semuanya, tetapi tentang mempercayai Pribadi yang memegang semuanya.

Percaya dengan segenap hati juga berarti tidak membagi hati antara Tuhan dan rasa aman semu. Kita tidak berkata, “Tuhan, aku percaya Engkau… tetapi kalau Engkau tidak bekerja sesuai rencanaku, aku punya plan B.”

Iman sejati tidak punya cadangan sandaran. Ia hanya punya satu pusat: Tuhan.

Bagi banyak keluarga muda, ayat ini sangat relevan. Di tengah tekanan ekonomi, pendidikan anak, pelayanan, dan masa depan, mudah sekali menjadikan logika sebagai kompas utama. Tetapi hikmat Amsal mengingatkan bahwa kompas terbaik adalah hati yang percaya penuh kepada Tuhan.

Bukan berarti kita menjadi pasif, melainkan kita bergerak dengan damai karena tahu siapa yang memegang arah.

Ketika kita sungguh-sungguh mempercayai Tuhan, ada damai yang tidak tergantung pada situasi. Ada keberanian untuk melangkah walaupun belum melihat peta lengkap. Ada kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, Engkau lebih tahu.”

Dan seringkali, justru di saat kita berhenti bersandar pada pengertian sendiri, kita mulai melihat cara Tuhan bekerja melampaui logika kita.

Jalan yang dulu tampak tertutup ternyata menjadi pintu baru.

Kegagalan yang dulu mengecewakan ternyata menjadi perlindungan.

Penundaan yang dulu membuat gelisah ternyata adalah persiapan.

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu. Itu bukan ajakan untuk menjadi naif. Itu undangan untuk hidup dalam relasi.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *