
Amsal 13:12
Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.
Ada jenis kelelahan yang tidak terlihat oleh orang lain: lelah karena menunggu.
Menunggu jawaban doa.
Menunggu pekerjaan yang belum datang.
Menunggu pemulihan hubungan.
Menunggu keadaan keluarga berubah.
Menunggu kesempatan yang sudah lama didoakan.
Bahkan terkadang kita menunggu sesuatu yang sederhana, tetapi karena penantiannya begitu panjang, hati mulai kehilangan kekuatan.
Awalnya kita masih dapat berkata, “Tuhan pasti menolong.”
Beberapa waktu kemudian kita berkata, “Tuhan, kapan?”
Setelah semakin lama, pertanyaan itu dapat berubah menjadi, “Tuhan, apakah Engkau benar-benar mendengar?”
Amsal 13:12 memahami pergumulan itu.
Alkitab tidak berpura-pura bahwa menunggu selalu mudah. Firman Tuhan mengakui bahwa harapan yang tertunda dapat menyedihkan hati.
Ada luka yang muncul bukan karena sesuatu yang buruk terjadi, tetapi karena sesuatu yang baik belum terjadi.
Kita berharap, tetapi belum menerima.
Kita berdoa, tetapi belum melihat jawaban.
Kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum berubah.
Kita sudah melakukan apa yang kita bisa, tetapi pintu yang kita nantikan masih tertutup.
Pada saat seperti itu, kita mudah menyimpulkan bahwa Tuhan sedang tidak bekerja.
Tetapi sering kali masalahnya bukan Tuhan tidak bekerja. Masalahnya adalah kita tidak dapat melihat pekerjaan-Nya dari tempat kita berdiri.
Seorang anak mungkin tidak mengerti mengapa orang tuanya mengatakan, “Tunggu.”
Dari sudut pandang anak, penundaan terasa seperti penolakan. Tetapi orang tua mungkin mengetahui sesuatu yang belum diketahui anak itu.
Demikian pula dengan Tuhan.
Kita melihat hari ini. Tuhan melihat seluruh perjalanan.
Kita melihat apa yang kita inginkan. Tuhan melihat apa yang benar-benar kita perlukan.
Kita melihat pintu yang ingin dibuka. Tuhan melihat ke mana pintu itu akan membawa kita.
Karena itu, penundaan Tuhan tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai ketidakpedulian Tuhan.
Tuhan selalu dapat menggunakan penantian untuk mengubah kita sebelum Ia mengubah keadaan kita.
Mungkin kita sedang meminta Tuhan mengubah situasi, tetapi Tuhan sedang terlebih dahulu mengubah hati kita.
Kita meminta jalan keluar, tetapi Tuhan sedang mengajarkan ketekunan.
Kita meminta jawaban, tetapi Tuhan sedang mengajar kita percaya.
Kita meminta sesuatu segera, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima sesuatu itu dengan cara yang benar.
Itulah sebabnya kita perlu berhati-hati dengan doa yang hanya berfokus pada hasil.
Kita dapat begitu terobsesi dengan apa yang kita tunggu sampai lupa kepada Pribadi yang kepada-Nya kita menunggu.
Jangan sampai kita berkata, “Saya akan percaya kepada Tuhan kalau Dia memberikan apa yang saya minta.”
Iman berkata sebaliknya:
“Saya tetap percaya kepada Tuhan, sekalipun saya belum menerima apa yang saya minta.”
Ini bukan berarti kita tidak boleh kecewa.
Daud pun pernah berseru, “Berapa lama lagi, TUHAN?”
Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat. Kita boleh membawa kekecewaan, air mata, dan pertanyaan kita kepada-Nya.
Tetapi setelah membawa semuanya kepada Tuhan, kita belajar menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Sebab pengharapan Kristen tidak berdiri di atas kepastian bahwa semua keinginan kita akan terpenuhi. Pengharapan Kristen berdiri di atas kepastian bahwa Tuhan tetap setia.
Ada kalanya Tuhan memberikan apa yang kita doakan.
Ada kalanya Ia memberikan sesuatu yang berbeda.
Ada kalanya Ia meminta kita menunggu jauh lebih lama daripada yang kita inginkan.
Dan ada kalanya kita baru memahami maksud-Nya setelah bertahun-tahun berlalu.
Namun dalam semuanya itu, karakter Tuhan tidak berubah.
Amsal 13:12 juga mengingatkan kita bahwa ketika keinginan akhirnya terpenuhi, sukacitanya seperti pohon kehidupan.
Setelah lama menunggu, sesuatu yang dahulu hanya kita lihat melalui doa akhirnya dapat kita nikmati sebagai jawaban Tuhan.
Mungkin hari ini kita sedang berada di antara kedua bagian ayat tersebut: harapan yang tertunda.
Jika demikian, jangan menyerah.
Jangan membuat keputusan besar hanya karena sedang lelah menunggu.
Jangan meninggalkan Tuhan hanya karena jawaban-Nya belum terlihat.
Jangan menganggap pintu yang belum terbuka sebagai bukti bahwa Tuhan telah melupakan kita.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah bekerja dengan setia.
Tetaplah hidup dalam kebenaran.
Tetaplah melakukan apa yang Tuhan percayakan hari ini.
Kita tidak tahu berapa lama penantian itu akan berlangsung. Tetapi kita tahu siapa yang memegang masa depan kita.
Mungkin jawaban Tuhan belum datang hari ini. Mungkin besok juga belum.
Tetapi selama kita menunggu, percayalah bahwa Tuhan tidak berhenti menjadi Tuhan.
Ketika harapanmu tertunda, jangan mengira Tuhan berhenti bekerja. Bisa jadi, sementara engkau menunggu jawaban-Nya, Tuhan sedang mempersiapkan hatimu untuk menerimanya.
