
Amsal 11:13
Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.
Ketika seseorang menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi kepada kita, sebenarnya ia tidak hanya memberikan informasi. Ia memberikan kepercayaan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apa yang saya ketahui?” tetapi, “Apa yang akan saya lakukan dengan apa yang saya ketahui?”
Amsal 11:13 berkata, “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.”
Ayat ini menunjukkan bahwa cara seseorang menggunakan informasi tentang orang lain memperlihatkan kualitas karakternya.
Ada orang yang merasa senang ketika mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Ia merasa memiliki sesuatu yang berharga untuk diceritakan.
Ketika bertemu dengan orang lain, cerita itu keluar sedikit demi sedikit.
Mungkin awalnya dengan kalimat, “Sebenarnya saya tidak boleh cerita ini…” Namun, setelah kalimat itu, rahasia tersebut justru diceritakan.
Kadang-kadang kita bahkan membungkus gosip dengan bahasa rohani.
“Doakan dia, ya. Saya sebenarnya tidak bermaksud membicarakannya, tetapi saya tahu ada masalah…”
Kita mungkin merasa sedang meminta orang lain berdoa. Tetapi jika informasi itu tidak perlu diketahui oleh orang tersebut, bisa jadi kita sebenarnya sedang melakukan apa yang Amsal sebut sebagai “membuka rahasia”.
Sadarilah bahwa gosip tidak selalu berbentuk kebohongan. Kadang-kadang informasinya benar, tetapi tetap salah untuk disebarkan.
Kita sering berpikir bahwa kalau sesuatu itu benar, maka kita bebas mengatakannya. Alkitab tidak memberikan kebebasan seperti itu.
Ada kebenaran yang memang harus disampaikan, tetapi ada juga kebenaran yang harus disimpan karena menyangkut privasi, martabat, dan kepercayaan seseorang.
Yesus sendiri mengajarkan bahwa ketika ada persoalan dengan saudara kita, penyelesaian seharusnya dimulai secara pribadi. Matius 18:15 berkata, “Jika saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.”
Ada prinsip yang jelas: jangan memperluas masalah sebelum memang diperlukan.
Itulah sebabnya Amsal mengatakan, “siapa yang setia, menutupi perkara.”
Menutupi perkara bukan berarti membenarkan dosa.
Jika seseorang melakukan kejahatan, membahayakan orang lain, atau melakukan dosa yang membutuhkan pertanggungjawaban, kita tidak boleh menggunakan ayat ini sebagai alasan untuk menutupinya. Kebenaran tetap harus ditegakkan.
Tetapi ada banyak perkara yang tidak membutuhkan penyebaran.
Kesalahan seseorang yang sudah ia akui dan sesali.
Kelemahan pribadi seseorang.
Pergumulan keluarga.
Kegagalan masa lalu.
Percakapan pribadi.
Masalah yang dipercayakan kepada kita untuk didoakan. Semua itu membutuhkan hati yang mampu menjaga kepercayaan.
Bayangkan jika setiap orang di gereja tahu bahwa setiap cerita pribadi yang mereka sampaikan akan segera tersebar. Apa yang akan terjadi?
Orang akan berhenti terbuka.
Orang akan takut meminta pertolongan.
Orang akan menyimpan pergumulan mereka sendiri.
Bahkan mungkin mereka akan menjauh dari komunitas karena merasa tidak aman.
Sebaliknya, ketika seseorang tahu bahwa kita dapat dipercaya, ia menemukan tempat yang aman.
Inilah salah satu bentuk kasih yang sering tidak terlihat.
Kita menunjukkan kasih bukan hanya melalui apa yang kita katakan, tetapi juga melalui apa yang kita pilih untuk tidak katakan.
Di zaman sekarang, tantangannya bahkan lebih besar.
Dahulu sebuah gosip mungkin hanya didengar beberapa orang. Sekarang satu pesan dapat diteruskan ke puluhan orang dalam hitungan detik.
Sebuah screenshot dapat disimpan. Sebuah voice note dapat diteruskan. Sebuah komentar dapat menjadi konsumsi banyak orang.
Karena itu, sebelum meneruskan sesuatu, kita perlu bertanya: Apakah ini benar?
Tetapi jangan berhenti di sana. Tanyakan juga: Apakah ini perlu disampaikan?
Dan lebih jauh lagi: Apakah saya orang yang tepat untuk menyampaikannya?
Tidak semua informasi yang benar harus dibagikan. Tidak semua cerita yang menarik perlu diceritakan. Tidak semua rahasia yang kita ketahui merupakan hak kita untuk buka.
Mungkin hari ini Tuhan sedang mengingatkan kita tentang seseorang yang pernah mempercayakan sesuatu kepada kita.
Jangan jadikan kepercayaannya sebagai bahan percakapan.
Jagalah. Doakan.
Jika memang perlu pertolongan, carilah orang yang tepat untuk terlibat. Tetapi jangan menikmati kelemahan orang lain sebagai bahan cerita.
Karena pada akhirnya, karakter kita tidak hanya terlihat dari bagaimana kita berbicara ketika semua orang mendengar.
Karakter kita juga terlihat dari bagaimana kita menjaga sesuatu ketika hanya kita yang mengetahuinya.
Orang yang dewasa secara rohani bukanlah orang yang mengetahui semua cerita tentang semua orang. Orang yang dewasa secara rohani adalah orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Tidak semua yang kita tahu harus kita ceritakan. Kadang-kadang kesetiaan kepada Tuhan terlihat dari rahasia yang kita pilih untuk tetap kita jaga.
