
Amsal 10:15
Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya, tetapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinan.
Manusia selalu mencari rasa aman.
Kita menabung, membeli rumah, memiliki asuransi, membangun usaha, dan merencanakan masa depan.
Semua itu adalah langkah yang bijaksana. Alkitab tidak pernah melarang orang bekerja keras atau mengelola berkat Tuhan dengan baik.
Namun, ada bahaya yang sangat halus.
Perlahan-lahan rasa aman kita dapat bergeser.
Kita mulai merasa tenang bukan karena Tuhan memegang hidup kita, melainkan karena saldo rekening kita cukup besar.
Kita merasa masa depan baik-baik saja karena investasi kita berkembang. Kita percaya diri karena aset yang kita miliki terus bertambah.
Salomo menggambarkan keadaan itu dengan sangat menarik. Bagi orang kaya, hartanya terasa seperti sebuah kota berbenteng.
Pada zaman dahulu, kota bertembok adalah tempat perlindungan ketika musuh datang menyerang. Di balik tembok itu orang merasa aman.
Tetapi tembok itu tidak selalu kokoh.
Sejarah penuh dengan orang-orang yang kehilangan seluruh kekayaannya hanya dalam waktu singkat.
Krisis ekonomi, bencana, penyakit, kebakaran, penipuan, bahkan kematian dapat meruntuhkan benteng yang dibangun bertahun-tahun.
Apa yang selama ini dianggap sebagai perlindungan ternyata tidak mampu menyelamatkan jiwa manusia.
Di sisi lain, kemiskinan memang membawa banyak penderitaan. Orang miskin sering menghadapi tekanan hidup yang jauh lebih berat.
Karena itu, gereja dipanggil untuk peduli kepada mereka yang berkekurangan.
Karena Allah sendiri menunjukkan perhatian yang besar kepada orang miskin dan tertindas.
Namun orang miskin yang mengenal Tuhan memiliki sesuatu yang lebih besar daripada harta dunia.
Mereka memiliki Allah sebagai tempat perlindungan.
Sebaliknya, orang kaya tanpa Tuhan sesungguhnya tidak memiliki benteng yang sejati.
Renungan ini mengajak kita memeriksa hati.
Apakah kita bersyukur ketika Tuhan memberkati secara materi? Tentu.
Apakah kita harus mengelola keuangan dengan bijaksana? Ya.
Tetapi jangan pernah mengganti posisi Tuhan dengan harta.
Karena kekayaan adalah alat, bukan juruselamat.
Ketika usaha berkembang, tetaplah rendah hati.
Ketika tabungan bertambah, tetaplah bergantung kepada Tuhan.
Ketika mengalami kekurangan, jangan kehilangan pengharapan, sebab Bapa di surga tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.
Benteng yang sejati bukanlah rekening bank, emas, tanah, atau investasi. Benteng yang sejati adalah Tuhan sendiri.
Di dalam Kristus, kita memiliki keamanan yang tidak dapat dicuri pencuri, tidak dapat dihancurkan inflasi, dan tidak dapat dirampas oleh kematian.
Karena itu, bekerjalah dengan rajin.
Kelolalah setiap berkat dengan bijaksana. Jadilah penatalayan yang setia.
Namun, biarlah hati kita selalu berkata, “Jika aku memiliki Tuhan, aku telah memiliki perlindungan yang paling kokoh.”
Harta dapat membangun tembok, tetapi hanya Tuhan yang menjadi benteng yang tidak pernah runtuh.
