
Amsal 28:4
Orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik, tetapi orang yang berpegang pada hukum menentangnya.
Setiap zaman memiliki tokohnya sendiri. Ada orang-orang yang dipuji karena kekayaan, kecerdasan, pengaruh, atau keberhasilannya.
Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang dipuji dunia, melainkan mengapa ia dipuji.
Amsal 28:4 mengungkapkan sebuah prinsip yang sangat relevan bagi kehidupan kita.
Salomo tidak memulai dengan membahas orang fasik, tetapi dengan membahas orang yang mengabaikan hukum Tuhan.
Mengapa? Karena akar dari banyak penyimpangan bukanlah kejahatan itu sendiri, melainkan ketika manusia berhenti menjadikan firman Allah sebagai ukuran hidup.
Mengabaikan firman bukan berarti seseorang membuang Alkitabnya atau berhenti datang ke gereja.
Sering kali hal itu terjadi secara perlahan.
Firman masih dibaca, tetapi tidak lagi ditaati.
Nasihat Tuhan masih didengar, tetapi hanya dipilih bagian yang terasa nyaman.
Lama-kelamaan hati menjadi kurang peka terhadap suara Tuhan.
Ketika standar Allah mulai disingkirkan, manusia akan mencari standar yang lain.
Budaya, media sosial, opini publik, atau tokoh-tokoh terkenal mulai menentukan apa yang dianggap benar dan salah.
Akibatnya, sesuatu yang dahulu jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan kini dianggap lumrah, bahkan layak dipuji.
Itulah yang dimaksud Salomo ketika berkata bahwa orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik.
Mereka mulai mengagumi keberhasilan tanpa memperhatikan integritas, menghormati kekayaan tanpa mempedulikan kejujuran, dan membela perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan kehendak Allah.
Sebaliknya, orang yang berpegang pada firman akan menentang kefasikan.
Penentangan ini bukanlah sikap arogan atau gemar mencari kesalahan orang lain.
Alkitab tidak pernah mengajarkan kita membenci orang berdosa.
Justru Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang berdosa.
Namun kasih tidak pernah berarti kompromi terhadap dosa. Yesus menerima orang berdosa, tetapi Ia juga berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Kasih Kristus selalu berjalan bersama kebenaran.
Demikian pula kehidupan orang percaya.
Kita dipanggil untuk mengasihi semua orang, tetapi tidak ikut membenarkan apa yang salah.
Renungan ini juga mengajak kita bercermin.
Apakah tanpa sadar kita mulai mengagumi nilai-nilai yang bertentangan dengan firman Tuhan?
Apakah kita lebih mudah terpengaruh oleh suara mayoritas daripada suara Tuhan?
Ataukah firman masih menjadi kompas yang mengarahkan setiap keputusan kita?
Di tengah dunia yang terus berubah, firman Tuhan harus tetap menjadi standar yang tidak berubah.
Apa yang benar menurut Allah tidak menjadi salah hanya karena banyak orang menolaknya.
Sebaliknya, apa yang salah tidak menjadi benar hanya karena banyak orang menerimanya.
Karena itu, marilah kita terus memenuhi hati dengan firman Tuhan.
Semakin kita mengenal kehendak-Nya, semakin tajam pula kepekaan rohani kita.
Kita akan mampu membedakan mana yang patut diteladani dan mana yang harus ditolak.
Kita tidak akan mudah terbawa arus budaya, atau trend masa kini. Melainkan tetap berdiri teguh di atas dasar yang kokoh.
Saat firman Tuhan tidak lagi menjadi standar hidup, dunia akan menentukan siapa yang layak dipuji.
